Persoalan Buah Lokal Diangkat Pewarta Desa

Persoalan Buah Lokal Diangkat Pewarta Desa

Tomat Cherry

Purwokerto, PENADESA – Minimnya pengenalan buah lokal Indonesia dibanding buah impor, menjadi persoalan yang kini dihadapi petani buah. Kegelisahan tersebut diungkapkan salah satu petani yang mengembangkan sistem pertanian organik di Desa Ketenger Kecamatan Baturraden, Tete Umron Halawa (46), dalam diskusi bersama pegiat sanggar belajar Pena Desa, Minggu (20/10).

Menurut Tete, saat ini belum ada media di Indonesia yang tertarik untuk mengangkat dan mengadvokasi keberadaan buah lokal. “Saat ini, saya tidak melihat adanya media yang berperan dalam mengenalkan buah lokal kepada masyarakat. Kondisi ini jauh berbeda dengan yang terjadi di luar negeri, seperti Amerika. Disana, media mempunyai peran besar dalam mengenalkan buah khasnya, seperti strawberry atau apel amerika yang benar-benar didukung media,” katanya.

Dalam diskusi yang dilakukan di tengah-tengah Kebun Jambu Organik Vila Bukit Indah di Desa Ketenger Kecamatan Baturraden, Tete menyinggung pentingnya pertanian organik yang berbasis buah lokal untuk didengungkan sebagai bagian dari kearifan lokal. “Langkah ini saya harap bisa didengungkan kembali dengan menyuarakannya melalui media yang ada. Melalui Sanggar Pena Desa, saya berharap buah-buah lokal ini bisa terangkat kembali dan berjaya di negeri sendiri,” jelasnya.

Persoalan ini kemudian coba diangkat pegiat di Sanggar Belajar Pena Desa dalam agenda kunjungan ke Kebun Jambu Organik Vila Bukit Indah. Agenda kunjungan kali ini merupakan rangkaian dari program Pena Desa yang berfokus dalam penulisan jurnalistik. Salah satu pegiat Pena Desa dari Desa Alasmalang Kecamatan Kemranjen, Estiko Aji mengemukakan, program ini sangat bagus untuk saling bertukar pengalaman dan pengetahuan diantara desa.

“Kami jadi tahu persoalan tidak dikenalnya buah lokal oleh masyarakat Indonesia sendiri. Padahal dari pengalaman yang diuraikan Pak Tete, buah lokal tidak kalah kualitasnya dengan buah impor yang saat ini merajai pasar buah di Indonesia. Saya rasa, pengembangan pertanian organik dengan buah lokal patut ditiru untuk mengangkat citra buah lokal yang selama ini kalah dengan buah impor,” jelasnya.

Koordinator Sanggar Belajar Pena Desa, Yudi Setiadi, mengemukakan kunjungan ke kebun jambu organik ini merupakan rangkaian dari program penulisan jurnalistik yang dijalankan selama tiga bulan. Menurutnya kunjungan ke kebun jambu organik, merupakan bentuk latihan reportase dan wawancara bagi jurnalis desa yang ingin menekuni dunia jurnalitisk.

“Pilihan kunjungan ke kebun organik di Desa Ketenger ini merupakan bagian dari program yang dilakukan pada minggu ketiga tiap bulannya. Dalam program ini, kami ingin memotret potensi desa dari berbagai sisi. Karena menurut kami, perlu ada upaya nyata memperkenalkan masing-masing potensi desa sebagai studi banding untuk saling mengisi dan maju bersama,” ujarnya.

Dia berharap, pegiat jurnalis desa yang ikut program ini bisa menjadi corong perubahan desa menuju arah perubahan yang lebih baik di kemudian hari. “Ini sesuai kesepakatan dan komitmen kami untuk mengangkat secara nyata potensi di desa melalui media alternatif yang kami miliki di penadesa.or.id,” tuturnya.

Mufid

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

fourteen − 11 =