Yuuk..Merawat Pohon Jambu dengan Sistem Organik

Yuuk..Merawat Pohon Jambu dengan Sistem Organik

jambu

Purwokerto, Penadesa.or.id – Pengolahan pertanian menggunakan sistem organik kini menjadi tren dalam masyarakat Indonesia. Salah satunya, seperti yang dipraktikan petani jambu di Desa Ketenger Kecamatan Baturraden, Tete Umron Halawa (46).

Pemilik kebun kebun jambu biji seluas 1,5 hektar ini, menuturkan, seluruh pohon jambu yang ada di kebunnya dirawat dengan sistem organik. “Pupuk yang digunakan disini itu pupuk kandang yang sudah diolah dan pupuk organik cair atau POC,” tuturnya, Minggu (20/10).

Tete menjelaskan, bahan utama dalam membuat pupuk organik sebenarnya sangat mudah didapat di sekitar perkebunan, bahkan bisa menghemat biaya perawatan kebun. Dia mencontohkan, dalam membuat pupuk kandang padat, sepenuhnya mengandalkan peternakan warga di sekitar kebun.

“Di daerah sini, banyak warga yang memelihara kambing. Dari situ, kita terbiasa mengumpulkan komposnya untuk diolah menjadi pupuk yang padat,” ucapnya.

Pria yang sejak tahun 2006 fokus mengelola kebun jambu organik ini mengemukakan, kompos yang baru dari kandang harus diolah terlebih dahulu. Tujuannya, jelas Tete, untuk memisahkan benda-benda non-pupuk yang berpotensi mematikan tanaman.

“Komposnya itu mesti diolah dulu, soalnya kalau langsung digunakan buat memupuk, bisa membunuh tanaman karena suhunya cukup panas,” jelas Tete.

Pemberian kompos yang diberikan pada pohon jambu, diakuinya, dilakukan tiap enam bulan sekali. “Tetapi sekarang diberikan saat menjelang musim baru,” paparnya.

Selain pupuk kompos, Tete juga membuat sendiri pupuk organik cair. Dia mengungkapkan pembuatan pupuk cair bisa menghemat lebih banyak pengeluarannya.

Dalam membuat pupuk cair organik, Tete mengatakan hal itu tergantung kebutuhan. Karena pembuatan pupuk organik cair menggunakan bahan dasar urine sapi dan kambing.

“Kalau membuat POC sendiri itu lebih murah. Soalnya kalau beli di pasaran, harganya cukup mahal. Sekitar Rp. 60 ribu sampai Rp. 100 ribu per liternya. Sementara kalau membuat sendiri itu lebih murah, sekitar Rp. 2.500,- per liternya” ungkap Tete,” ucapnya

Tetapi untuk pupuk cair, lanjut Tete, pemberian pupuk dilakukan tiap dua minggu sekali. “Untuk pupuk cair, selain disiramkan pada tanaman juga disemprotkan. Terutama untuk insectisida dan daun,” ungkap Tete.

Estiko Aji Saputro

1 KOMENTAR

  1. Memang yang namanya organik lagi booming. selain harganya lebih mahal juga butuh perawatan yang ekstra juga.

    semakin kita baik kepada alam, maka akan baik juga alam terhadap kita.

LEAVE A REPLY

4 × one =