Menristek Canangkan Desa Kalisari Sebagai Desa Mandiri Energi

Menristek Canangkan Desa Kalisari Sebagai Desa Mandiri Energi

Perajin Tahu

PURWOKERTO – Desa Kalisari Kecamatan Cilongok Banyumas selama ini dikenal sebagai sentra perajin tahu. Limbah yang dihasilkan pun melimpah dan membuat pencemaran lingkungan. Padahal, limbah tahu bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar biogas.

“Desa Kalisari bisa menjadi desa percontohan mandiri energi,” kata Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta, saat melihat Instalasi Pengolahan Air Limbah di Desa Kalisari, Jumat (25/10).

Ia mengatakan, gas metana yang dihasilkan dari pembuatan tahu merupakan salah satu penyumbang terbesar efek rumah kaca. Selain itu, industri tapioka juga menjadi penyumbang emisi gas buang yang menyebabkan pemanasan global.

Di Indonesia, kata dia, tercatat ada 84 ribu unit usaha pembuatan tahu. Dari jumlah itu, sebesar 80 persen industri kecil tahu berada di Pulau Jawa.

Ia menambahkan, dari 84 ribu unit usaha tahu itu, kebutuhan bahan baku kedelai per tahun mencapai 2,56 juta ton. Total emisi gas buang yang dihasilkan industri itu mencapai 747 ton gas karbon dioksida. “Gas ini lebih banyak dibandingkan industri besar seperti semen, baja dan kertas,” katanya.

Saat ini, di Desa Kalisari sudah dibuat empat unit reaktor biogas memanfaatkan limbah industri tahu. Desa tersebut menjadi percontohan di Indonesia sebagai desa mandiri energi.

Dadan Kusdiana, Direktur Bioenergi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengatakan, Kementerian sudah membangun sekitar 10.300 unit reactor biogas. “Tapi umumnya reaktor untuk sapi, untuk tahu baru lima lokasi,” katanya.

Menurut dia, limbah tahu mengandung 16 ribu milligram liter COD. Jika tak ditanggulangi, limbah itu bisa merusak lingkungan.

Bupati Banyumas, Achamd Husein mengatakan, jumlah perajin tahu di Desa Kalisari saat ini mencapai 591 unit. Jumlah kedelai yang diolah mencapai 5.116 ton. “Jumlah limbah perhari mencapai 36 ribu ribu liter,” katanya.

Menurut dia, jika gas buang itu dimanfaatkan semua maka bisa menyuplai kebutuhan gas untuk masak memasak sejumlah 623 rumah. “Masyarakat bisa menikmati energi gratis,” katanya.

Sri Utami, 37 tahun, warga Desa Kalisari mengatakan, dengan adanya reaktor gas itu ia tak perlu membeli elpiji untuk memasak. Selain itu, bau busuk akibat limbah tahu kini tak tercium lagi. “Lingkungan lebih bersih dan tak perlu lagi membeli elpiji,” katanya.

 

Ivo Adiprianto

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

2 − one =