Alasmalang belum siap menjadi desa wisata durian

Alasmalang belum siap menjadi desa wisata durian

kebun-durian
Banyumas, Penadesa – Meski dikenal sebagai desa sentra pembibitan durian montong “Bawor”, Desa Alasmalang Kecamatan Kemranjen belum siap menjadi desa wisata durian.

Persoalan minimnya lahan, kurangnya kesadaran petani durian membentuk kelompok tani menjadi kendala utama yang dihadapi. Pun, persoalan minimnya dukungan masyarakat untuk menciptakan desa wisata durian juga masih kurang.

Petani sekaligus pedagang durian di Desa Alasamalang, Samikun (49) mengungkapkan hingga kini kesadaran masyarakat masih kurang untuk menjadikan durian sebagai buah komoditas di desa tersebut. “Masyarakat sini masih menjadikan pohon durian sebagai tanaman sela. Kebanyakan ditanam di pekarangan bersama pohon buah lainnya,” ungkapnya (6/11).

Ia mengatakan banyak masyarakat di Desa Alasmalang yang masih berpikir ulang untuk menanam durian di pekarangan atau lahan persawahan miliknya. Apalagi, lanjutnya, tidak semua warga yang memiliki pekarangan tidak menyukai jenis tanaman durian. “Masyarakat masih takut gagal. Mending menanam pohon rambutan daripada pohon durian. Terutama orang-orang yang tidak suka durian dan memiliki lahan luas,” jelasnya.

Terpisah, petani durian lainnya, Suyono (54) mengatakan, selain faktor lahan, masyarakat di desanya lebih memilih melakukan pembibitan daripada pemeliharaan tanaman hingga masa panen. Alasan petani memilih pembibitan, ujar Suyono, lantaran waktu perawatan yang lebih singkat. “Mereka bisa mendapatkan keuntungan jutaan rupiah dalam waktu 1 hingga 2 tahun. Selain itu, perawatan bibit lebih mudah dan tidak butuh waktu lama. Keuntungannya pun bisa mencapai keuntungan hingga jutaan rupiah,” jelasnya.

Selain itu, Suyono menambahkan faktor di luar tanaman durian yang menurutnya menjadi pangkal persoalan. Ia mengungkapkan ketiadaan kelompok tani dan koperasi petani durian menjadi soal yang hingga kini belum bisa disadari petani. “Mereka masih belum mau terikat aturan kelompok dan koperasi. Mereka masih suka kerja sendiri-sendiri,” ucapnya.

Menurutnya, jika terbentuk kelompok tani atau koperasi petani durian, permasalahan lahan dan juga kestabilan harga bisa yang kerap dihadapi mereka bisa dicarikan jalan keluar bersama.

Estiko Aji Saputro

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

4 × five =