Memanjakan Diri di Kebun Jambu Biji Organik

Memanjakan Diri di Kebun Jambu Biji Organik

mufid2

Keasrian alam berpadu dengan udara segar pegunungan, sepertinya menjadi tempat favorit untuk melepas penat masyarakat kota yang kerap berjibaku dalam hiruk pikuk aktivitas sehari-hari.

Kebutuhan akan sarana rekreasi alam yang menawarkan konsep wisata pertanian organik, menjadikan Kebun Jambu Biji Organik di Desa Ketenger Kecamatan Baturraden Banyumas Jawa Tengah menjadi tempat yang menarik disinggahi.

Seperti dituturkan Lusianti (50), warga Kebondalem Purwokerto Jawa Tengah, yang beberapa waktu lalu menghabiskan waktu bersama keluarganya menikmati wisata perkebunan organik.

“Di sini, selain udaranya yang segar, jambu bijinya juga mempunyai keunggulan tersendiri dibanding jambu biji yang ada di pasaran. Rasanya lebih manis, lebih renyah dan sehat karena dikembangkan dengan sistem organik,” tuturnya saat beristirahat di salah satu gubuk yang ada di sekitar perkebunan jambu organik.

Selain aktivitas memetik jambu, pemandangan alam yang memanjakan mata juga membuat Lusianti dan keluarga, tak pernah bosan datang ke kebun jambu biji tersebut.

Adalah Tete Umron Halawa (46), warga desa Baseh Kecamatan Kedungbanteng yang berinisiatif menrintis budidaya Jambu biji organik di lahan tidur sejak tahun 2006 di lahan seluas 1,5 hektare. Tetapi pada tahun 2010 kebun jambu biji tersebut baru ia buka untuk umum.

Ide mengembangkan jambu biji lokal dengan sistem pertanian organik dimulai dari keprihatinannya dengan kelangkaan jenis buah tersebut. Menurutnya, masyarakat sebenarnya telah terbiasa makan buah jambu.

Selain itu, belum adanya wisata kebun di Purwokerto adalah peluang yang cukup prospektif untuk dikembangkan. “Saya senang menekuni usaha ini karena tidak menjual kemiskinan, tetapi menjual kemakmuran kepada masyarakat sekitar,” ujarnya.
Menurutnya, dampak positif dengan dibukanya wisata perkebunan jambu tersebut bisa dirasa warga sekitar. Diantaranya dengan dibangun jalan menuju tempat wisata perkebunan dan pemanfaatan kotoran kambing untuk kepentingan perkenbunan yang mampu menjadi pemasukan warga pemilik ternak kambing sekitar Rp 300 ribu tiap bulan.

“Selain itu, kami juga memberdayakan warga dengan mengarahkan tamu yang menginap untuk memesan makanan ke warga sekitar. Kalaupun ada dampak negatifnya, ya paling bising” katanya.

Pria yang akrab dipanggil Tete ini melanjutkan, membuka usaha seperti ini bukan tanpa kendala. Bagi pria lulusan Fakultas Hukum Universitas Wijayakusuma Purwokerto ini, kendala modal dan promosi masih menjadi persoalan hingga kini.

“Usaha jambu biji ini bukan tanpa kendala. Di antaranya adalah modal, hama dan promosi yang masih dilakukan secara tradisional. Tetapi, kami senang, karena ada juga pengunjung dari luar kota yang datang ke sini,” ucapnya.

Namun lambat laun, persoalan promosi mulai teratasi dengan meningkatnya kunjungan ke kebun organiknya. Dia mengakui, banyak permintaan dari berbagai kalangan untuk bisa mengunjungi perkebunan yang berada di atas bukit indah tersebut.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan, perkebunan jambu organik ini sebenarnya tidak hanya sekedar tempat wisata atau perkebunan saja. Tetapi juga tempat edukasi untuk warga ataupun pelajar hingga mahasiswa yang ingin belajar pertanian organik.

“Mungkin karena bukan sekedar untuk rekreasi atau menikmati jambu biji, tetapi nilai edukasi juga menjadi tujuan dari kebun ini” katanya.

Riyanto

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

thirteen − 8 =