Perempuan-perempuan penangkar bibit di Dawuhanwetan

Perempuan-perempuan penangkar bibit di Dawuhanwetan

dawuhan-wetan

Siang yang semakin terik tidak membuat para pekerja di lahan penangkaran budidaya bibit tanaman desa Dawuhanwetan kecamatan Kedungbanteng menghentikan pekerjaannya. Mereka masih asyik dengan pekerjaan masing-masing untuk mendapat upah dari pekerjaan mereka hari Minggu ini (24/11).

Lahan penangkaran bibit milih gabungan kelompok tani (gapoktan) Berkah Makmur yang berada di pinggir jalan utama Desa Dawuhawetan, menampung pekerja dari masyarakat desa. Dengan luas lahan 5.950 meter persegi, berbagai jenis bibit tanaman keras seperti jenitri, ketapang, albasia, aren, palem, mahoni, ditangkar dan dibudidayakan.

Sarni (55), penangkar bibit, mengaku menggantungkan hidup dari pekerjaannya di lahan tersebut. Dia memilih untuk bekerja di lahan tersebut daripada menjadi pengangguran atau bekerja di luar negeri. “Lebih enak kerja di sini, daripada kerja di luar negeri atau cuma jadi pengangguran,” katanya sembari membuang batang-batang bibit yang telah mati.

Tak jauh dari tempat Sarni duduk, 4 perempuan lainnya yang bekerja menanam ratusan bibit bersama penangkar lainnya. Salah satunya dilakukan Tursiyah (54) yang sudah puluhan tahun berkerja di penangkaran bibit tumbuhan.

Ia berkerja menjadi spesialisasi pengisi pollybag dengan tanah untuk media penanaman bibit. “Dalam sehari, bisa menyelesaikan 1.000 hingga 1.200 pollybag,” katanya sambil mengisi tanah kedalam pollybag dibawah payung hijau yang digunakan untuk berlindung dari sinar mentari.

Dengan upah Rp 20 per pollybag, Tursiyah bisa membawa pulang Rp. 20 ribu hingga Rp 24 ribu per hari. “Dalam sehari bisa dapat Rp 20 ribu. Lumayan buat bantu suami,” ujarnya.

Nasrul (35), perangkat Desa Dawuhanwetan, mengemukakan pembayaran upah pekerja pada penangkaran bibit tersebut lazimnya menggunakan sistem borongan, tergantung jumlah pollybag yang digarap oleh pekerja.

“Upah yang didapat pekerja sesuai dengan jumlah pollybag yang didapat. Selain itu, perubahan musim juga mempengaruhi upah yang didapat,” ujarnya ditengah acara penulisan PenaDesa.

Saat musim kemarau, para pekerja tersebut mendapatkan upah berkisar Rp 15 ribu hingga Rp 24 ribu. Menurut Nasrul, ketika musim kemarau, penangkaran bibit lebih banyak menampung bibit. Sedangkan saat musim penghujan, penangkaran fokus pada pemasaran.

Selain bergantung pada musim, Nasrul menambahkan untuk upah menanam juga disesuaikan dengan tingkat kesulitan bibit yang ditanam. “Untuk upah menanam bibit, tergantung tingkat kesulitan penanaman yang biasanya berkisar antara Rp 15 hingga Rp 20,” katanya.

Namun dengan penghasilan tersebut, penangkar perempuan yang bekerja di lahan pembudidayaan bibit Desa Dawuhanwetan bisa mencukupi penghidupan keluarga mereka.

Estiko Aji Saputro

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

4 × 2 =