Petani Penangkar Bibit Kesulitan Tentukan Harga

Petani Penangkar Bibit Kesulitan Tentukan Harga

bibit tanamanBanyumas, Penadesa- Desa Dawuhanwetan sebagai desa penghasil bibit tanaman perkebunan dan kehutanan terbesar di Banyumas, ternyata masih menyimpan beragam persoalan yang perlu dibenahi. Salah satunya adalah penentuan standar harga bibit tanaman yang disebabkan kurangnya koordinasi antar petani.

 

Hal tersebut dibenarkan Ahmad Saefudin (76 Tahun), petani penangkar bibit tanaman yang sudah menekuni profesinya sejak tahun 1959. “Koordinasi yang kurang antar petani menyebabkan tidak adanya standar harga bibit tanaman” tutur Ahmad Saefudin, Minggu (24/11/2013).

 

Selain itu, desakan ekonomi juga menyebabkan petani harus banting harga ketika bibit tanman belum siap jual, sehingga dihargai murah oleh pembeli. Sistem penjualan langsung dari petani kepada pembeli menyebabkan ketidakseragaman harga. Kondisi tersebut menyebabkan iklim pemasaran yang tidak sehat.

 

“Adanya persaingan antar calo bibit tanaman juga sering kali merugikan petani, karena sering kali harga di pembeli beda jauh dengan harga di petani,” kata Yantofik (48 Tahun) Pengurus Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Berkah Tani Dawuhanwetan.

 

Meskipun pemasaran sudah mampu menembus luar pulau Jawa, seringkali kebutuhan dan ketersediaan stok barang tidak seimbang karena kurangnya informasi dan koordinasi. Dalam produksinya, para petani hanya mengandalkan spekulasi.

 

“Kebanyakan dari mereka hanya memprediksi sendiri bibit tanaman apa yang mereka tanam, tidak berdasarkan karena ada pesanan ataupun sudah adanya perjanjian dengan pembeli,” kata Ahmad Durori (44 Tahun), Ketua Gapoktan Berkah Tani.

 

Kehadiran Gapoktan Berkah Tani yang diharapkan mampu mengatur strategi produksi dan pemasaran pun tidak berdaya mengatasi permasalahan tersebut, sehingga sering kali petani memperoleh hasil yang kurang memuaskan.

 

Padahal, Pemerintah Desa Dawuhanwetan telah berupaya menjembatani dengan membuat konsep pasar bibit tanaman yang menyediakan data statistik jumlah petani penangkar bibit tanaman serta jenis dan jumlah produksinya.

 

“Di pasar tersebut nantinya tersedia contoh bibit, harga, jumlah stock serta produsennya, sehingga dalam transaksinya pembeli cukup datang ke pasar bibit tanaman,” kata Sutikno, Kepala Desa Dawuhanwetan.

 

Saat ini, pemerintah desa bekerja sama dengan karang taruna melalui program desa vokasi sedang merintis pembentukan kelompok Lestari K7. Tugas Kelompok tersebut mengumpulkan data dari para petani.

 

“Kami mengharapkan dukungan, saran dan bantuan kepada semua pihak untuk membantu memecahkan permasalahan tersebut. Mengingat pentingnya penangkaran bibit tanaman yang menjadi bagian dari program penghijauan nasional,” tuturnya.

 

Nasrul Majid

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

ten − 9 =