Suburnya Ekonomi Di Desa Pembibitan

Suburnya Ekonomi Di Desa Pembibitan

2013-11-24 11.22.34

Ayunan pancong yang dihujamkan ke tanah oleh petani perempuan, Tiwen (55) masih terdengar dari sebuah ladang di pinggir jalan Desa Dawuhanwetan Kecamatan Kedungbanteng Banyumas  pada Minggu (24/11) siang.

Bentangan kain gorden yang disangga sebilah bambu menjadi pelindung teriknya mentari sepanjang siang itu. Bagi Tiwen, hari minggu bukanlah waktunya berlibur seperti kebanyakan orang. Guratan semangat itu masih nampak jelas di raut muka Tiwen.

“Daripada di rumah nganggur, mending saya bekerja di sini untuk membantu suami”, ungkap Tiwen saat ditemui di tengah ladang pembibitan.

Desa di selatan kaki gunung slamet ini, sekarang telah menyandang nama sebagai desa pusat pembibitan tanaman.  Berbagai macam bibit tanaman dapat ditemukan dengan mudah di desa ini, mulai dari bibit tanaman kayu keras dan juga bibit tanaman buah-buahan.  Di sepanjang jalan desa ini terhampar hijauan bibit tanaman di kanan dan kirinya. 

“Awalnya yang ditanam masyarakat sini hanya bibit tanaman cengkeh, Haji Sulaiman selaku kepala desa pada tahun 1959 yang memberikan ide budidaya bibit untuk masyarakat pada awalnya”, tutur Ahmad Saefudin(76) salah satu penangkar bibit.  Sejak saat itu masyarakat mulai akrab dengan bibit tanaman, dan terus berkembang hingga sekarang.  Ribuan bibit tanaman dengan keanekaragaman jenisnya telah menjadi produk kebanggaan desa dawuhanwetan.

Pesanan bibit tanaman pun tidak hanya datang dari pembeli lokal saja, banyak pembeli bibit yang juga datang dari luar pulau jawa.  Karena nama desa yang sudah cukup terkenal ini, pemasaran pun hanya mengandalkan pembeli yang datang secara langsung ke desa ini.  Ada sebagian pembeli yang datang diantar oleh makelar yang ikut memasarkan bibit tanaman. 

Menurut Ahmad Saefudin keberadaan makelar tidak begitu merugikan bagi para penangkar bibit, namun justru membantu pemasarannya.  “adanya makelar tidak begitu merugikan, mereka malah membantu pemasaran,  kan sama-sama nyari makan”.

Lapangan pekerjaan pun terbuka lebar di desa ini.  Banyak mantan buruh migran yang memilih bertahan di desa dan tidak kembali bekerja di luar negeri.  Mereka lebih memilih mendulang rejeki di lahan desanya.

Mereka lebih memilih terjun menjadi petani penangkar bibit, karena peluang usaha terbuka cukup lebar.  “Banyak mantan buruh migran yang lebih memilih menjadi penangkar bibit, dan tidak kembali bekerja di luar negeri”, ungkap Nasrul(35) kasi pembangunan di pemerintahan desa.

Pembibitan telah menjadi nadi perekonomian masyarakat Desa Dawuhanwetan.  Mulai dari anak muda hingga orang tua telah bergelut dengan tanah dan tanaman setiap harinya.  Ekonomi keluarga pun tertopang dengan pesatnya perputaran uang di desa ini. 

Sebagian ibu rumah tangga ikut bekerja dan memiliki penghasilan sendiri, membantu penghasilan keluarga dari suami mereka.  Anak putus sekolah tidak lagi bingung mencari pekerjaan, karena mereka bisa bekerja sebagai langsir (buruh bongkar muat bibit).

Yudi Setiyadi

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

five + seventeen =