Buruh Tani Hanya Dibayar 10 Ribu Sehari

Buruh Tani Hanya Dibayar 10 Ribu Sehari

Lahan pembibitan

Konon Indonesia menjadi Negara Agraris namun terkadang nasib petani menjadi sangat tragis. Tatkala buruh pabrik di ibukota demonstrasi kenaikan upah hingga 3 juta, sedang di desa buruh tani bingung kemana mengadu kenaikan upahnya.

 

Sementara ini pemerintah seringkali memberikan aturan tentang Upah Minimum Regional (UMR) kepada perusahaan-perusahaan di daerah, namun sudahkah menaungi nasib upah buruh tani di negeri kita ini?

 

Di suatu desa vokasi di wilayah banyumas tepatnya di Dawuhanwetan sebagian masyarakat bekerja sebagai buruh tani. Mereka bekerja kepada pengusaha dengan upah harian untuk menyiapkan polibag, menanam tanaman, perawatan tanaman, langsir, hingga pengiriman tanaman ke lokasi penjual.

 

Ditemui di lokasi pembenihan ibu-ibu yang bekerja cukup semangat demi sesuap nasi. Salah satunya sudah berusia diatas 50 namun tetap ikut bekerja untuk menyambung hidup. Ia mengaku sudah cukup lama menjadi buruh tani yang membantu menyiapkan polibag. Berangkat dari rumah sekitar pukul 06.30 WIB hingga sore saat adzan ashar berkumandang. Buruh tani ini bekerja borongan dengan jumlah hasil polibag yang siap tanam dengan upah 20 ribu untuk 1.000 plastik polibag.

 

Sementara karena usia yang sudah cukup tua ia mengaku dalam sehari hanya menyelesaikan 500 plastik polibag. Itu artinya dalam sehari maka ia berpenghasilan hanya 10 ribu rupiah. Sungguh sangat berbeda jauh dengan nasib buruh-buruh di ibukota yang seringkali melakukan aksi demonstrasi.

 

Berbeda lagi dengan ibu-ibu yang lebih muda, biasanya dalam sehari jika kondisi tanahnya bagus maka bisa menghasilkan 1.000 plastik polibag. Tentu dengan perjuangan melawan panasnya terik mentari dan bercucuran air keringat untuk mendapatkan uang 20 ribu rupiah. Berbeda cerita lagi saat kondisi tanah terlalu kering atau terlalu basah maka akan memperlambat penyiapan media tanah dalam polibag.

 

Kenyataan ini berbeda jauh dengan penjualan para pengusaha kepada para pembeli yang harganya cukup tinggi. Bahkan sangat jauh bila dibanding penghasilan makelar yang bisa dua kali lipat dari penjual (pemilik tanaman).

 

Perlindungan terhadap buruh tani di desa dawuhanwetan belum mampu memberikan keterpihakan kepadanya. Bahkan pemerintah desa setempat mengaku belum bisa memberikan perlindungan upah kepada buruh tani.

 

Dari penjualan tanaman jarangkali penawaran mendapatkan penawaran yang rendah. Itu artinya nilai jual tanaman sangatlah tinggi apalagi jika mendapat proyek dari dinas atau instansi yang harganya tentu akan lebih mahal lagi. Namun kenyataan dilapangan menunjukan upah buruh tani sangatlah jauh dari kelayakan.

 

Hingga saat ini apa yang dilakukan pemerintah untuk memberikan jaminan upah yang layak kepada buruh tani? Atau barangkali sudahkan aturan tersebut yang melindungi para petani? Namun sudahkan di sosialisasikan kepada buruh tani kita?

 

Barangkali buruh tani kita tak sampai memikirkan tentang aturan-aturan yang rumit, namun setidaknya nuarni pengusaha mampu memberikan kenyamanan dan kesejahteraan kepada buruh tani. Coba bayangkan saja kalau tidak ada yang mau menyiapkan media tanah ke polibag, haruskah semua ditangani sendiri oleh pengusaha.

 

Mufid

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

3 × two =