Melepas Kerinduan Wayang Kulit di Tahun Baru Islam

Melepas Kerinduan Wayang Kulit di Tahun Baru Islam

wayang-kulit

Banyumas, Penadesa – Dalang Marwoto menyampaikan pesan tersirat melalui wayang kulitnya agar Desa Dukuhwaluh dapat mengalami perubahan dari yang tidak baik menjadi baik. Harapan itu disampaikan untuk menyambut tahun baru suro serta kepala desa yang baru saja menjabat di Desa Dukuhwaluh.

“Perubahan itu ada dua yang pertama dari baik ke buruk yang kedua dari buruk ke yang baik” kata dalang marwoto di sela permainan wayang kulitnya sembari meminta sinden untuk menyayikan lagu keroncong di malam senen (24/11). Pesan ini disampaikan ringan namun penuh dengan makna.

Pagelaran wayang kulit yang dimulai jam 11 malam itu justru semakin ramai saat mendekati tengah malam. Masyarakat berkerumun di depan dan dibelakang layar.

“Kulo seneng kalih wayang kulitan mas, garwa lan anak kulo ingkang ragil tak bekto mriki kagem ningali wayang kulit,” ujar Aman, 54 tahun, warga Dukuhwulung yang biasa bekerja di proyek. Bapak lima anak ini mengaku senang dengan adanya pertunjukkan wayang kulit di malam senin meskipun besok paginya ia harus bekerja di daerah Grendeng.

Pekerja yang biasanya bekerja di proyek bangunan itupun menyesalkan waktu pelaksanaan pertunjukkan wayang kulit tersebut. Selain Ia harus bekerja di hari seninnya anak yang dibawanyapun rewel minta pulang karena besok sekolah.

Selain waktunya yang tidak sesuai penataan panggungpun kurang pas kerena tratag yang dipasang hanya di bagian depan sehingga penonton lebih banyak menonton di bagian depan wayang. “Pengin nonton sindene men manteb niku mas,” ungkap Aman ketika ditanya sepinya penonton di belakang layar.

Meskipun ada beberapa kritikan namun ia merasa puas mendapat tontonan wayang kulit semalam suntuk. Hal itu karena kehausan akan kesenian wayang terobati dari pagelaran wayang kulit di lapangan Desa Dukuhwaluh ini. Ia mengaku sekarang jarang menonton wayang karena jarang orang yang punya hajatan menanggap wayang.

“Ini tontonan seni, tontonan budaya jawa,” ungkapnya sambil duduk di atas rumput dan memakan kacang rebus yang banyak dijual di sana.

Fuad Nur Azis

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

4 − four =