Pesona Candu Watu Geong

Pesona Candu Watu Geong

Watu Geong Sumampir
Pesona Watu Geong

Sumampir, Pena Desa – Sejuk, tenang dan menenangkan, sedikit kata yang menggambarkan suasana sekitar tebing yang dinamai Watu Geong. Dari katanya saja, orang Jawa mengartikan tebing itu batu yang menggantung.

Ya, keunikan yang ditawarkan tempat ini adalah keberadaan batu raksasa sebesar rumah seperti menggantung di salah satu puncak Gunung Korakan, sebelah selatan desa Gunungwuled Kecamatan Rembang. Watu ini terletak pada ketinggian 580 mdpl., Pengunjung yang datang bisa menikmati pemandangan luas pegunungan, desa, dan kota dari kejauhan.

Watu Geong bisa ditempuh dengan perjalanan jalan kaki sekitar 30 – 40 menit dari Desa Gunungwuled. Jalanan menuju Watu Geong hanya berupa jalan setapak dan sebagian penuh semak belukar.

Sebelum sampai ke puncak, kita juga dapat menikmati hamparan bunga pacar air yang tumbuh di sekitar jalan. Cocok bagi yang suka berpetualang. “Rasa lelah untuk mencapai puncak Watu Geong segera sirna begitu sampai di puncak dan melihat keindahan alam yang di disajikan di puncak Watu Geong, rasanya tidak ingin beranjak dari sini” ungkap Endarwati, salah satu pengunjung yang baru pertama kali mengunjungi Watu Geong ini.

Bagi warga setempat, suasana di Watu Geong ibarat candu. Tidak ada kata bosan untuk bersantai di bebatuan, tidur di semak belukar, menikmati semilir angin dan melepas pemandangan ke alam bebas.

Seperti yang di ungkapkan Arga, warga yang sudah berulang kali mengunjungi Watu Geong,  “Meskipun untuk sampai kesini menguras tenaga, tapi saya tidak pernah bosan untuk mengunjunginya lagi. Ketika cuaca cerah kita bisa melihat bendungan Sudirman di Mrican Banjarnegara dan menikmati indahnya sunset dari sini”

pemandangan-watu-geong
Pemandangan Watu Geong

Sejarah

Di Indonesia, khususnya di tanah Jawa semua tempat pasti memiliki cerita tersendiri. Begitupula dengan Watu Geong. Menurut Juweni (80), “Watu Geong merupakan tempat bersemayamnya senjata dari para Pandawa, sehingga puluhan tahun yang lalu diyakini sebagai tempat untuk mencari wangsit ataupun senjata pusaka”

Selain cerita tersebut,Juweni menambahkan “Watu Geong merupakan tempat bertapa tokoh pewayangan, yakni Pandawa dan Punakawan. Sehingga masyarakat Dusun Sirebut dan sekitarnya tidak berani mengadakan pagelaran wayang kulit”

Konon kalau ada yang berani menggelar pagelaran wayang kulit, akan menimbulkan bencana. Salah satunya adalah runtuhnya Watu Geong.Bagi yang ingin mengunjungi watu geong, dianjurkan pada awal musim kemarau. Karena kabut tidak begitu tebal dan intensitas curah hujan sudah berkurang.

Sayangnya, pengelolaan dan publikasi tempat ini sebagai daerah tujuan wisata masih sangat kurang sehingga belum mampu memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh Watu Geong.

Ina Farida

Sumber: http://sumampir.penadesa.or.id/2014/03/25/pesona-candu-watu-geong/

4 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

1 × two =