Jembatan Asa Dua Desa

Jembatan Asa Dua Desa

Salah satu pejalan kaki yang melewati jembatan membawa barang dagangannya
Salah satu pejalan kaki yang melewati jembatan membawa barang dagangannya

GUMIWANG, Pena Desa – Potongan kayu berjajar rapi tersusun menjadi bagian utama jembatan penghubung Desa Gumiwang dan Desa Luwung Banjarnegara. Dua sisinya dibatasi oleh baja tebal yang dipasang ala kadarnya. Jembatan ini, merupakan saksi bisu derap kehidupan dua desa itu.

“Ketakutan mengalahkan kewajiban untuk menafkahi keluarga,” kata Nurkholis, 57 tahun, tukang ojek yang biasa mangkal di ujung jembatan itu, Sabtu (22/3).

Nurkholis juga mengatakan, ia harus menantang bahaya dengan melewati jembatan itu. Meski takut, ia nekat agar asap dapur tetap mengepul.

Dalam sehari, ia bolak-balik melintas jembatan yang membelah Sungai Serayu itu. Kadang rasa ngeri melintas di benaknya, terutama saat hujan turun. Alas jembatan yang terbuat dari kayu, akan menjadi licin tersiram hujan.

Jembatan ini memiliki lebar  1,5 meter dengan panjang kurang lebih 200 meter. Hanya pejalan kaki dan sepeda motor yang bisa melintas di jembatan ini.

Dari atas jembatan, pemandangan sekitar cukup indah. Suara gemuruh dari derasnya aliran Sungai Serayu menghempas bebatuan. Desah sang angin memanjakkan dedaunan serta ranting bambu di tepian sungai.

Hijaunya pohon rindang memanjakan mata dari penatnya kepadatan pemandangan kota. Nyanyian burung-burung kecil yang berterbangan menambah syahdu suasana.

Diresmikan tahun 1972, jembatan ini dibangun murni dari uang kas desa tanpa ada bantuan sepeserpun dari kantong pemerintah. Pembangunan dilakukan selama kurang lebih 1 tahun dengan mempekerjaan masyarakat sekitar desa Gumiwang dan masyarakat desa Luwung.

“Pemerintah benar-benar tidak mengeluarkan uang sepersen pun dalam pembangunan jembatan ini,” ujar Sumaryo (64) salah satu anggota petugas jaga di pos pengawasan penyebrangan.

Ia menambahkan, setiap harinya jembatan ini selalu ramai terus apalagi kalau ada razia kendaraan di jalan raya. Terutama anak-anak sekolah yang mencari jalan alternative agar tak terjaring razia lalu lintas.

Setiap pengguna jembatan yang lewat wajib membayar uang pajak sebesar Rp.1000,-. Uang yang terkumpul per harinya akan disetorkan kepada kantor desa yang nantinya akan digunakan sebagai dana perbaikan jembatan yang rutin dilakukan setiap tahunnya. Walaupun sudah ditetapkan tarif untuk setiap kendaraan yang lewat, namun masih banyak para pengguna jembatan yang ceroboh dengan tidak membayar pajak.

“ Yang hanya lewat saja dan tidak mau membayar pajak juga banyak,namun kami ridak pernah menegurnya. Kami hanya butuh kesadaran dari para pengguna jembatan yang lewat agar mematuhi untuk membayar tarif jalan yang sudah ditetapkan,” ujar Sumaryo.

 

(Dhea Tiara Sari Dan Mistokhudin)

Sumber : http://gumiwang.penadesa.or.id/2014/04/23/jembatan-asa-dua-desa/

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

13 − twelve =