Jembatan Gantung Dusun Sumingkir, Antara Keindahan dan Kecemasan

Jembatan Gantung Dusun Sumingkir, Antara Keindahan dan Kecemasan

jembatan gantung satu-satunya akses yang dapat dilalui oleh warga Dusun Sumingkir ke luar dusun, baik untuk sekolah maupun untuk bekerja menyambung hidup.
jembatan gantung satu-satunya akses yang dapat dilalui oleh warga Dusun Sumingkir ke luar dusun, baik untuk sekolah maupun untuk bekerja menyambung hidup.

Sumampir, Pena Desa – “Grag…grug…gludag..gludag”. Bunyi roda kendaraan beradu dengan papan kayu alas jembatan yang sebagian besar telah rapuh dan berlubang dimakan usia.

Kondisi yang cukup memprihatinkan ketika melewati jembatan gantung yang menghubungkan Desa Bantarbarang dengan Dusun Sumingkir yang dihuni oleh 450 kepala keluarga ini.

Jembatan yang di bangun pada tahun 1977 sebagai hadiah dari Suparjo Rustam, Gubernur Jawa Tengah saat itu atas kebaikan warga Dusun Sumingkir yang telah membantunya selama mengungsi pada jaman penjajahan dulu.

Rasa tidak nyaman selalu hinggap di hati warga yang setiap harinya melalui jembatan ini.

“Meskipun setiap hari melewati jembatan ini, rasanya was-was dan ngga nyaman. Apalagi jika menggunakan mobil. Kita harus mengecek dulu kayunya, apakah ada yang berlubang apa ngga biar ngga terperosok”. Ungkap Nani Fatmawati (32), warga dusun setempat.

“Lebih mengerikan lagi kalau musim hujan tiba, kayu menjadi licin dan air sungai melimpah” imbuh ibu dari tiga orang putra ini.

Kondisi yang kontras dengan pemandangan alam yang disajikan di sekeliling jembatan. Dari atas jembatan kita bisa menikmati sejuknya udara yang masih asri, aliran sungai gintung yang jernih, serta hijaunya pohon-pohon di bukit sekitar jembatan. Begitu menenangkan, hingga banyak warga dari luar desa yang menikmati keindahannya sembari memancing.

Jembatan sepanjang 60 meter dengan lebar sekitar 2,5 meter yang kedua sisinya hanya dibatasi rangkaian besi seadanya ini merupakan urat nadi bagi warga dusun ini karena jembatan tersebut satu-satunya akses yang dapat dilalui oleh warga Dusun Sumingkir ke luar dusun, baik untuk sekolah maupun untuk bekerja menyambung hidup.

“Kalau tidak melalui jembatan ini mau lewat mana lagi, meskipun sangat berbahaya harus tetap dilalui” ungkap Sidin AK (53) Kepala Dusun Sumingkir.

Warga merasa kesulitan untuk membangun jembatan karena biaya yang diperlukan tidaklah sedikit. Warga sangat berharap untuk segera di adakan pembangungan jembatan yang permanen agar aktivitas warga menjadi lebih lancar, aman dan tidak merasa was-was lagi ketika melewatinya.

“Untuk usulan pembangunan sudah sering kami lakukan, tapi dari Pemkab sendiri hanya merehab saja tidak mengganti dengan jembatan yang permanen.” Imbuh Sidin.

 

(Ina Farida)

Sumber: http://sumampir.penadesa.or.id/2014/05/10/jembatan-gantung-dusun-sumingkir-antara-keindahan-dan-kecemasan/

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

3 + 1 =