Ketika Desa Ingin Bersuara

Ketika Desa Ingin Bersuara

 

Kegiatan pelatihan menulis dari Sanggar Pena Desa
Kegiatan pelatihan menulis dari Sanggar Pena Desa

Sebuah kasus terjadi di desa, saat itu hampir tidak ada satu media massa pun yang memberitakannya. Masyarakat berusaha untuk terus memperjuangkannya, karena berkaitan dengan hukum dan keadilan. Namun suara itu seolah tidak didengar, karena rawan konflik kepentingan. Hal ini pernah dialami oleh penulis, sebagai warga desa yang memiliki keterbatasan akses pada media.

Posisi masyarakat desa selama ini hanya menjadi pengonsumsi pasif informasi yang dihasilkan oleh media. Porsi pemberitaan desa masih jauh lebih kecil, jika dibandingkan dengan isu-isu politik dan gosip-gosip selebritis.

Jika pun diberitakan, konten berita tentang desa sebagian besar adalah berkutat seputar masalah. Kriminalitas, kemiskinan, dan tindakan asusila, yang terkadang justru merugikan citra desa dan masyarakatnya.

Dan persoalan ini pun sebenarnya menimbulkan sebuah polemik. Karena masyarakat desa yang menjadi pengonsumsi pasif berita dari media. Belum memiliki sikap kritis terhadap informasi yang mereka dapatkan. Perubahan perilaku sosial masyarakat desa, yang kerap mengidentifikasi sebagai bagian dari masyarakat global. Justru ditunjukkan dalam eksistensi desa yang semakin memudar.

Perkembangan teknologi informasi dan internet. Merangsang munculnya pola pikir dan pola aksi baru, Jurnalisme warga dan jurnalisme online. Ketika siapa saja dapat menulis, dan mempublikasikan tulisannya melalui media online. Para penulis di media online kemudian dikenal sebagai blogger. Walaupun sekarang sudah semakin berkembang ke arah citizen journalist atau pewarta warga.

Undang-undang nomer 14 tahun 2008 tentang keterbukaan informasi publik. Membuka sebuah ruang baru bagi masyarakat untuk dengan mudah mendapatkan, mengolah dan menyampaikan informasi. Sementara itu Undang-undang nomer 40 tahun 1999 tentang PERS. Yang mengatur cara kerja dan bisnis pers, termasuk ketentuan terkait para wartawan atau jurnalis profesional. Masih dianggap hanya berlaku bagi wartawan yang bekerja pada perusahaan media atau wartawan profesional. Sisi lain, kegiatan pewarta warga atau citizen journalist belum terakomodir undang-undang.

Menulis atau memproduksi berita, bagi warga desa sejatinya merupakan pintu untuk menginformasikan desa kepada dunia. Mengenalkan potensi desa, serta keragaman budaya masyarakatnya. Dan juga sebagai wujud sikap kritis, untuk melawan hegemoni kekuatan media di arus elit yang semakin menggurita. Bagaimana pemilik media-media arus utama, terkadang memiliki banyak kepentingan, dari pemberitaan media yang mereka miliki. Penggunaan frekuensi publik untuk beriklan atau mempromosikan diri melalui televisi. Sekarang ini banyak dilakukan oleh pemilik-pemilik media, yang juga merupakan politisi. Sebuah ruang publik yang dipakai untuk beradu kepentingan. Kepercayaan pada produk-produk jurnalistik, yang dihasilkan oleh media profesional pun semakin berkurang.

Jurnalisme warga atau pewarta warga, sebenarnya bisa menjawab persoalan-persoalan di atas. Dengan membuat berita atau menulis informasi-informasi tentang desa. Maka desa akan memiliki nilai tawar yang lebih bagi masyarakat luas. Dan juga sebagai usaha untuk mengimbangi pemberitaan-pemberitaan yang dihasilkan oleh media arus utama. Dimana porsi pemberitaan tentang desa masih sangat kecil.

Tantangan itu tidak lah mudah, bagaimana membuat masyarakat desa mau menulis dan mengolah informasi tentang desa. Serta bagaimana tulisan atau berita yang dihasilkan oleh masyarakat, dapat memenuhi kaidah jurnalistik yang seharusnya. Kode etik jurnalistik juga tidak bisa dilepaskan dari jurnalisme warga. Karena biar bagaimana pun, tulisan atau berita yang dibuat menjadi sebuah produk media. Yang dengan mudah dapat diakses dan dikonsumsi oleh masyarakat luas (publik).

Untuk menjawab tantangan tersebut, penulis dan sejumlah pegiat jurnalisme warga, Serta para wartawan profesional. Menginisiasi sebuah ruang belajar bersama bagi kalangan muda desa, untuk bergerak memulai arus perubahan baru dari desa.

Kegiatan ini kami utamakan melalui kegiatan menulis dan pemberdayaan masyarakat yang ada di desa dalam wilayah praktiknya, serta untuk mengenalkan potensi desa. Fokus pelatihan penulisan dalam hal ini adalah pembelajaran penulisan media massa. Dengan begitu diharapkan kalangan muda desa yang tergabung dalam kegiatan ini, dapat menulis atau membuat berita sesuai dengan kaidah jurnalistik yang seharusnya. Isu yang berkembang di desa, serta keberagaman potensi yang ada di desa dapat disuarakan dengan cara yang baik dan benar melalui kegiatan jurnalisme warga.

Yudi Setiyadi / Pena Desa

 

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

four × 5 =