Permainan Tengkulak Rusak Kualitas Kopi Gondo Arum

Permainan Tengkulak Rusak Kualitas Kopi Gondo Arum

Hasil panen kopi yang ditampung oleh kelompok tani kopi Gondo Arum.
Hasil panen kopi yang ditampung oleh kelompok tani kopi Gondo Arum.

BANJARNEGARA, Pena Desa – Hasil panen kopi yang tidak berbanding lurus dengan permodalan yang dimiliki oleh kelompok tani kopi Gondo Arum, mengakibatkan banyak petani kopi di Karangkobar, Banjarnegara, masih bergantung pada tengkulak.  Ketergantungan pada tengkulak ini membuat kualitas kopi menjadi kurang baik di pasaran, banyak kopi yang dijual oleh petani pada tengkulak dalam keadaan masih hijau.

Hasil panen yang mampu tertampung oleh kelompok tani baru mencapai 60 ton glondong basah, sementara panen kopi dari petani bisa mencapai dua kali lipatnya. Hal ini sudah berjalan dari tahun 2011 sampai 2014, sebagai akibat dari kurangnya permodalan yang dimiliki oleh kelompok tani.

Imam Sajidin (37), ketua kelompok kopi Gondo Arum menyampaikan, “kurangnya modal membuat kami tidak bisa membeli seluruh hasil panen, padahal permintaan pasar sangat berpotensi untuk ekspor,” ungkapnya, saat ditemui di gudang kopi kelompok pada Kamis (11/09).  Harga kopi di pasaran
juga terpengaruh oleh permainan tengkulak, padahal harga beli kopi petik merah yang menjadi standar ekspor memiliki harga yang lebih tinggi.

Saman (32), ketua kelompok kopi Maju Makmur yang bermitra dengan kelompok kopi Gondo Arum membenarkan kondisi tersebut.  “Kami sangat berharap ada bantuan permodalan, sehingga semua hasil panen kopi dari petani bisa ditampung oleh kelompok tani,” ujarnya.

Upaya kelompok kopi Gondo Arum dalam permodalan sudah dilakukan dengan mengajukan proposal ke PT Indonesia Power Banjarnegara, hanya saja masih menunggu proses pencairan. Bantuan modal ini akan digunakan untuk meningkatkan daya beli kelompok, sehingga mampu menjaga kualitas kopi yang dijual di pasaran lokal hingga ekspor.

Kuswoyo / Banjarnegara

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

one × 4 =