Dari Sampah Jadi Berkah

Dari Sampah Jadi Berkah

Produk tas dari Desa Sumampir, Rembang, Purbalingga yang dibuat dari bahan sampah

Produk tas dari Desa Sumampir, Rembang, Purbalingga yang dibuat dari bahan sampah
Produk tas dari Desa Sumampir, Rembang, Purbalingga yang dibuat dari bahan sampah

Sumampir, Pena Desa – DI MATA siapapun sampah selalu dianggap sebagai sesuatu yang kotor, bau, tidak bermanfaat dan tentu saja merusak keindahan.  Padahal, apabila dikelola dengan benar, sampah bisa menjadi berkah.

Pegiat Bank Sampah Resik Mandiri Desa Sumampir akhir-akhir ini sedang disibukkan dengan kata indah itu.  Mereka berusaha menyulap sampah menjadi barang yang bernilai tambah.  Serta berusaha mengubah cara pandang masyarakat desa terhadap sampah.

Seperti sampah organik yang bisa diolah menjadi kompos, sampah anorganik  juga bisa diolah menjadi sesuatu yang baru, indah, dan tentu saja mempunyai nilai ekonomis yang bisa menjadi sumber tambahan pendapatan keluarga.

“Harapannya nanti warga akan terbiasa untuk mengolah kembali sampah yang mereka hasilkan sehingga nantinya sampah yang terbuang ke lingkungan akan semakin sedikit,” ungkap Nurhalimah (33), salah satu pegiat Bank Sampah Resik Mandiri.

Kerajinan yang diproduksi oleh satu-satunya Bank Sampah yang ada di Kecamatan Rembang, Purbalingga ini antara lain tas, gantungan kunci, bros, dompet yang semuanya dibuat dengan bahan baku sampah plastik, dan baru-baru ini juga telah memproduksi seminar kit pesanan dari BLH Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.

Bahan baku diperoleh dari sampah-sampah nasabah yang disetorkan ke bank sampah, sedangkan untuk proses pembuatan dibantu oleh nasabah yang membunyai keahlian menjahit.

Untuk permasalahan yang dihadapi saat ini ada pada proses penjualan, harga penjualan barang kerajinan daur ulang ini dinilai mahal padahal asalnya dari sampah.  Harga produk bervariasi tergantung ukuran dan tingkat kerumitannya.  Untuk gantungan kunci dan bros mulai dari Rp 3000,-  sedangkan untuk dompet dan tas dari Rp 20 ribu sampai Rp 125 ribu.

“Sebenarnya harga tersebut untuk membayar proses pengerjaannya. Membuat tas daur ulang lebih rumit dari tas biasa.” kata ketua Bank Sampah Resik Mandiri, Reza Azhar P.

Menurut dia, sebagian besar para perajin merasa kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pasar. Lantaran teknik pembuatannya masih secara tradisional atau hand made.

“Mungkin kalau ada mesin pencacah plastik, kami bisa memproduksi lebih banyak, lebih cepat, harga produksinya bisa ditekan sehingga harga jualnya lebih murah, dan yang lebih penting sampah yang dipakai juga akan lebih banyak,” imbuh Reza.

Reza mengatakan, mengelola sampah semacam ini memiliki banyak manfaat, Selain menjaga lingkungan agar tetap bersih, indah dan sehat juga bisa membawa berkah, mendapat tambahan penghasilan dan juga memperluas tali silaturahmi. Untuk mengolah sampah hanya diperlukan ketelatenan dan rasa ingin berteman dengan sampah. Berkawanlah dengan sampah, mulai dari lingkungan keluarga.

INA FARIDA

Sumber: http://sumampir.penadesa.or.id

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

3 + seven =