Booming Batu Klawing, Ancam Keindahan Curug Aul

Booming Batu Klawing, Ancam Keindahan Curug Aul

batuan dinding curug aul di rembang, Purbalingga yang mulai rusak akibat dijarah batunya
batuan dinding curug aul di rembang, Purbalingga yang mulai rusak akibat dijarah batunya

Penadesa – Naiknya popularitas batu klawing sebagai batu hias dalam beberapa waktu belakangan ini, menimbulkan ancaman kerusakan lingkungan. Ancaman tersebut terjadi karena penambangan liar yang tidak terkendali seperti yang terjadi di Curug Aul Desa Tanalum, Kecamatan Rembang, Purbalingga, Jawa Tengah.

Curug Aul yang selama ini menjadi tempat wisata lokal di wilayah tersebut, dikenal dengan bukit batu pancawarna yang kini populer lantaran harganya yang cukup menjanjikan untuk menjadi batu hias. Dari pengamatan Penadesa.or.id pada Minggu (18/1), ada beberapa titik kerusakan di dinding bukit tersebut karena ulah penambang batu liar yang hanya mencari keuntungan semata. Dinding bebatuan Curug Aul tampak terbuka sehingga sedikit mengurangi keasrian curug.

“Penjarahan di sini (Curug Aul) terbilang nekat. Ada beberapa titik di dinding bebatuan Curug Aul yang dicongkel. Mulai dari lokasi yang berada di pinggir jalan sampai ke lokasi yang sulit di jangkau. Pencongkelan atau penggalian umumnya dilakukan menggunakan linggis dan besi,” ujar pegiat alam dari Komunitas Canyoning ID, Isro Adi Harso beberapa waktu lalu.

Isro mengaku prihatin karena pengrusakan alam ini bisa berdampak pada masyarakat sekitar dan membuat tata kehidupan sosial masyarakat ikut terancam. “Dampak yang ditimbulkan sudah terlihat secara langsung mulai dari tanah yang terbuka hingga longsor di sekitar aliran air dari curug Aul ke curug Nagasari,” katanya.

Ia berharap, pemerintah setempat bisa cepat menangani persoalan serius ini. “Harus ada regulasi yang berorientasi pada alam tentang hal ini agar manfaat ekonomis yang ada bisa seiring sejalan dengan prinsip konservasi lingkungan,” papar Isro.

Selain dari pegiat alam, harapan serupa juga dikemukakan warga Desa Tanalum yang prihatin maraknya kerusakan bukit pancawarna di Curug Aul tersebut. “Kami tidak bisa membayangkan jika batuan terus d ambil. Pasti tanah sekitar akan mudah longsor. Semoga cepat ada tindakan yang tepat untuk mengatasi hal ini agar kerusakan tidak semakin parah,” kata seorang warga Desa Tanalum, Yudhi Praharini (28).

Untuk menyelamatkan curug Aul dari kerusakan yang lebih parah, Pemerintah Desa setempat bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Tanalum, Kecamatan Rembang, Purbalingga mengambil inisiatif memasang papan larangan di penambangan batu pancawarna di sekitar curug Aul dan Curug Nagasari.

“Ke depan akan ada posko untuk merazia pengunjung yang masuk. Apabila ada yang membawa alat-alat tambang atau batu hasil tambang akan kami sita,” tegas Taat Prianto, Kepala Dusun di Tanalum sekaligus Ketua Pokdarwis Desa tersebut.

Ina Farida

Sumber : http://sumampir.penadesa.or.id/2015/01/23/booming-batu-klawing-ancam-keindahan-curug-aul/

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

16 − sixteen =