Wayang Suket, Anyaman dari Rumput yang Mendunia

Wayang Suket, Anyaman dari Rumput yang Mendunia

Aneka Tokoh Dunia Pewayang yang Terbuat dari Suket. Foto: Ikhsan Yoso
Aneka Tokoh Dunia Pewayang yang Terbuat dari Suket. Foto: Ikhsan Yoso

PURBALINGGA, Pena Desa – Anyaman unik dan menarik dari berbagai tokoh pewayangan yang dibuat oleh Mbah Gepuk, tak disangka berasal dari suket (rumput) yang bagi sebagian besar orang menganggapnya sebagai tanaman pengganggu atau gulma.

Wayang suket di Purbalingga pertama kali dibuat oleh Kesang Wikrama atau yang lebih dikenal dengan Mbah Gepuk. Lewat keterampilannya, rumput atau suket disulap menjadi berbagai bentuk tokoh wayang. Hingga pada tahun 1995 Mbah Gepuk mengadakan pameran Tunggal di Bentara Budaya Yogyakarta.

Kisah Mbah Gepuk perlahan menghilang seiring meninggalnya sang maestro wayang tersebut. Tak banyak orang yang memiliki keahlian untuk meneruskan warisan Mbah Gepuk. Di daerah asalnya, Desa Bantarbarang, Rembang, Purbalingga hanya ada dua orang yang mampu membuat anyaman wayang suket ini, Ikhsanudin dan Badrianto lah yang kini melestarikannya.

“Pada dasarnya saya suka karya seni, senang melihat dan ingin belajar membuat suatu karya yang unik dan nyeni. Dan menurut saya wayang suket ini seni, jadi saya berusaha untuk membuat dan melestarikannya,” ungkap Ikhsanudin (36), disela-sela menganyam suket beberapa hari yang lalu.

Ikhsan sendiri belajar membuat wayang suket secara otodidak dengan melihat dari brosur dan wayang karya Mbah Gepuk yang dibelinya sewaktu masih kecil.

Ada perbedaan rumput yang digunakan, wayang yang dibuat oleh Ikhsan dengan wayang Mbah Gepuk. “Kalau saya menggunakan media dari rumput yang tumbuh di pinggir jalan, sedangkan Mbah Gepuk menggunakan suket yang warga sini menamakan suket Kasuran,” Imbuh Ikhsan.

Untuk membuat satu buah wayang dibutuhkan keterampilan yang ekstra. Satu wayang ukuran kecil sekitar 30 cm membutuhkan waktu sekitar 2 minggu untuk menganyamnya, sedangkan untuk ukuran yang lebih besar bisa mencapai satu bulan. Tingkat kesulitan sendiri tergantung dari jenis tokoh yang akan dibuat.

Proses pembuatan wayang suket ini dimulai dengan memetik rumput yang tumbuh di pinggir jalan, dibersihkan dari bagian bunganya kemudian di angin-anginkan sampai agak layu baru bisa di anyam.

Anyaman wayang suket Ikhsan tidak hanya dikagumi oleh warga sekitar, tetapi juga oleh Geoffrey Cormier, dosen mata kuliah desain grafis di South Carolina University. “Wayang ini terlihat sangat menakjubkan,” Kata Geoffrey di akun media sosialnya.

Selain itu, pada Februari 2013 Geoffrey juga menyempatkan diri datang dan melihat langsung proses pembuatan wayang suket di Purbalingga. Karya seni langka dari suket ini jika tidak dilestarikan akan semakin menghilang.

“Harapannya bisa punya studio seni wayang suket di dekat sini, sehingga bisa melestarikan sejarah dan ada sesuatu yang bisa dikenang,” Kata Ikshan.

Ina Farida

Sumber : sumampir.penadesa.or.id

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

19 − eleven =