Sungai dan DAS Ibarat Anak dan Bapak

Sungai dan DAS Ibarat Anak dan Bapak

Abdullah Al Kudus, pegiat komunitas laskar hijau dari Lumajang, Jawa Timur saat berbagi pengalaman pada sidang komisi IV Kongres Sungai 2015, kamis (27/08).
Abdullah Al Kudus, pegiat komunitas laskar hijau dari Lumajang, Jawa Timur saat berbagi pengalaman pada sidang komisi IV Kongres Sungai 2015, kamis (27/08).

BANJARNEGARA, PenaDesa – Melestarikan sungai tidak bisa dilepaskan dari usaha-usaha menjaga DAS (Daerah Aliran Sungai), keduanya ibarat anak dengan bapak yang harus sama-sama dijaga. Hal ini disampaikan oleh Prof. Totok Gunawan dari UGM pada sidang komisi IV yang merupakan rangkaian dari acara Kongres Sungai Indonesia di Banjarnegara, Kamis (27/08).

“Sungai itu ibarat anak dan DAS adalah bapaknya, jadi jika ingin menjaga sungai maka harus dipikirkan juga bagaimana menjaga daerah aliran sungainya,” ungkap Totok Gunawan ketika berbicara di depan forum sidang komisi IV.

Kesadaran untuk menjaga daerah aliran sungai dan sumber mata air dengan pengelolaan hutan yang baik, selama ini telah menjadi sorotan dari banyak pihak. Komunitas Laskar Hijau di Klakah, Lumajang, Jawa Timur adalah salah satu komunitas yang selama ini berkonsentrasi pada kegiatan pelestarian hutan sebagai sumber mata air. Komunitas ini mengajak masyarakat untuk peduli pada pelestarian hutan dengan menggagas acara-acara kebudayaan yang dekat dengan masyarakat.

Kenduri pohon dan maulid hijau yang digagas oleh komunitas laskar hijau, saat ini telah menjadi kegiatan tahunan yang dilaksanakan di gunung Lemongan, Jawa Timur. Kenduri pohon adalah awal musim tanam pada setiap tahun di gunung Lemongan dan maulid hijau merupakan acara peringatan maulid Nabi Muhammad SAW yang dibarengi dengan penanaman pohon.

“Kenduri pohon dan maulid hijau saat ini telah menjadi acara tahunan yang kami lakukan bersama masyarakat di gunung Lemongan untuk bersama menjaga hutan,” kata Abdullah Al Kudus, pegiat komunitas laskar hijau.

Acara yang telah mendapat apresiasi dari banyak pihak ini sempat dianggap sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) kabupaten Lumajang. Namun komunitas laskar hijau tetap mempertahankannya karena tujuan positif dari maulid hijau adalah untuk peringatan maulid nabi dan menjadi upaya melestarikan hutan.

“Acara maulid hijau sempat dianggap sesat oleh MUI Lumajang, karena kegiatan penanaman pohon yang bersamaan dengan peringatan maulid nabi,” tambah Adullah Al Kudus saat bercerita pengalamannya pada sidang komisi IV.

Banyak gagasan dan cerita menarik yang muncul dari para pegiat sungai pada Kongres Sungai Indonesia 2015 yang berlangsung 26 – 30 agustus 2015 di Banjarnegara. Para peserta berharap dari kongres ini bisa menjadi awal perubahan tata kelola sungai yang lebih baik di Indonesia.

Yudi Setiyadi

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

twelve − four =