Dodol Talas, Si Manis dari Panusupan

Dodol Talas, Si Manis dari Panusupan

Toliah (50) sedang merapikan dodol talas buatannya yang siap untuk dijual.

Toliah (50) sedang merapikan dodol talas buatannya yang siap untuk dijual.
Toliah (50) sedang merapikan dodol talas buatannya yang siap untuk dijual.

PURBALINGGA, Pena Desa – Siapa yang tak kenal dengan dodol, kudapan yang berbentuk kecil, legit dan memiliki rasa yang manis ini. Di sejumlah kota besar, dodol menjadi makanan khas yang dijual untuk oleh-oleh kepada wisatawan.

Umumnya, panganan ini terbuat dari bahan tepung ketan yang kemudian dibubuhi beraneka macam rasa buah. Akan tetapi, warga Dusun Bojong Rt 3/7 Desa Panusupan, Kecamatan Rembang, membuat jajanan tersebut dengan bahan baku umbi talas.

Salah satu perajin, Toliah (50), menuturkan, talas dipilih sebagai bahan baku dodol karena cukup melimpah dan tidak dimanfaatkan. Umumnya warga hanya memanfaatkan daunnya sebagai pakan ikan, sedangkan umbinya dibuang begitu saja.

“Di sini umbi talas jarang di manfaatkan. Paling di buat cimplung atau ubi yang diolah dengan campuran air untuk membuat gula kelapa,” ujar Toliah, saat ditemui di kediamannya.

Pembuatan dodol Toliah ini cukup sederhana. Umbi talas yang telah diiris tipis, kemudian dikukus. setelah matang bahan baku tersebut ditumbuk sampai halus, sembari dicampur dengan adonan gula pasir dan tepung hungkwe.

Untuk menambah selera konsumen, dodol talas ini tersedia dalam berbagai pilihan rasa. Mulai dari rasa durian, moka hingga pandan.

“Beda dengan cimplung yang hanya tahan dua sampai tiga hari saja, dodol talas ini bisa bertahan sampai 15 hari,” tuturnya.

Harga banderol dodol talas juga cukup murah. Setiap satu bungkus berisi 15 biji dodol hanya dijual Rp 5.000 saja.

Pegiat Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) “Ardi Mandala Giri” Desa Wisata Panusupan, Yanto (40) mengatakan, dodol talas ini sudah dipasarkan di toko-toko sekitar Kecamatan Rembang. “Selain lebih tahan lama, nilai ekonomisnya juga lebih tinggi. Sehingga ada warga yang berinisiatif untuk mengolahnya menjadi dodol,” ujarnya.

Meski industri rumahan ini baru dirintis sejak beberapa bulan lalu, namun dodol talas ini ternyata cukup diminati warga sekitar. Selaian memiliki rasa yang alami dan tahan lama, rasa kudapan ini tidak kalah dengan dodol daerah lain berbahan tepung biasa. Dia berharap, makanan tersebut bisa menembus pasar oleh-oleh di kota besar.

(Ina Farida)

sumber : sumampir.penadesa.or.id

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

fifteen − six =