Lukisan Sokaraja, Riwayatmu Kini

Lukisan Sokaraja, Riwayatmu Kini

Galeri lukis "Keluarga" yang masih bertahan hingga saat ini menjadi saksi kejayaan lukisan sokaraja pada era 70-an.
Galeri lukis “Keluarga” yang masih bertahan hingga saat ini menjadi saksi kejayaan lukisan sokaraja pada era 70-an.

Dijuluki sebagai galeri lukis terpanjang di Asia Tenggara di awal era 70-an, nasib lukisan Sokaraja kini megap-megap meski sekadar untuk bertahan.

Belasan tahun puluhan lukisan dibiarkan tergulung begitu saja di atas lemari, tak tersentuh dan hanya menjadi tempat serangga bersarang. Sang pemilik yang mungkin karena lupa, jelas merasa tak perlu rajin-rajin menengoknya.

Lukisan-lukisan itu kumuh dan sebagian besar sudah tak utuh. Kalau bukan catnya yang memudar beberapa lukisan rusak di sana-sini digerogoti waktu atau serangga. Ketika diturunkan serombongan kecoa tunggang langgang menyelamatkan diri. Sebagian lari ke balik lemari, sebagian ngotot bertahan di sela-sela gulungan lukisan.

Beda nasib dengan fisiknya yang ngenes, goresan kuas di kanvas itu justru menawarkan kontras. Hamparan sawah, gunung atau air terjun dan pepohonan, realis naturalis khas Indonesia Molek atau mooi Indie.

Ini sisa-sisa lukisan milik orang tua. Dulu memang buka galeri tapi tutup tahun 80-an ganti jualan soto dan getuk goreng karena lukisan sepi,” kata Tri Sumarni. “Karena tak ada yang mewarisi bakat melukis dan dagang sekarang disewakan.”

Rumah Tri di Sokaraja memang strategis dan berada di pinggir jalan utama. Ruas jalan yang bahkan sejak puluhan tahun lalu menjadi urat nadi ekonomi warganya.

Dia mengenang, di masa remajanya selain dikenal sebagai tempat kuliner yang unik seperti getuk goreng atau soto, Sokaraja identik dengan penghasil lukisan yang khas. Tak cuma dari tanah air, pembeli lukisan bahkan datang langsung dari Singapura, Malaysia, Filipina atau Brunei. Mereka memborong lukisan dalam jumlah besar untuk dijual kembali di negara asalnya. “Sekarang galeri lukisan menghilang dan Sokaraja hanya dikenal karena getuk goreng dan soto,” tutur Tri Sumarni.

Istilah mooi Indie populer di Nusantara sejak awal abad 20 menyusul kebutuhan Belanda untuk dokumentasi alam, budaya, dan wilayah jajahannya termasuk Indonesia. Karena foto belum lazim, puluhan pelukis bergaya realis naturalis dikirim untuk mengabadikannya.

Beberapa pelukis yang pernah tinggal di Indonesia dan kemudian namanya menjulang mewakili aliran ini adalah Antonio Blanco, Le Mayeur, Rudolph Bonet, Walter Spies, dan Holpman. Dari merekalah sebutan mooi Indie lahir.

Aliran realis naturalis yang melukiskan sesuatu yang nyata dan alami seperti aslinya itu belakangan meninggalkan pengaruh yang dalam pada seniman pribumi. Sebut saja Abdullah Suryo Subroto dari Solo, Wakidi yang berasal dari Semarang, dan Raden Mas Pirngadie dari Banyumas.

Salah satu karya milik pelukis sokaraja yang masih mempertahankan gaya lukisan realis naturalis.
Salah satu karya milik pelukis sokaraja yang masih mempertahankan gaya lukisan realis naturalis.

Massal

Maestro seni rupa S Sudjojono menganggap gaya mooi indie seperti garapan pelukis Sokaraja memiliki kekhasan dengan rumus ‘tiga elemen suci’ gunung, sawah dan pepohonan. Rumus itulah yang kemudian diterjemahkan menjadi “langit pasti cerah, air selalu bening dan mengalir tanpa gejolak.” Lukisan rakyat model Sokarajaan dianggap mensugesti ‘ketentraman’ masyarakat awam yang kalis dari debat seni tinggi.

Dari Bandung yang dianggap menjadi pusatnya, mooi Indie diperkenalkan ke Sokaraja melalui Fatoni dan Gesang Naerobi pada paruh tahun 50-an. Gaya itu mencapai puncak kejayaannya tahun 1970-an dan membuat Jalan Soedirman seolah menjadi etalase lukisan yang panjang. Saking panjangnya Sokaraja bahkan dianggap sebagai galeri lukisan terpanjang se-Asia Tenggara.

Sayang, berkah itu belakangan justru jadi bumerang. Kerja-kerja estetik berubah menjadi produksi massal yang cepat laku agar ekonomi tetap berputar. Dalam sehari seorang pelukis bahkan sanggup mengerjakan 30-40 lukisan. Tak ada lagi karya seni karena yang ada hanya kerajinan gambar dengan tema-tema monoton. Beberapa pelukis bahkan melukis di pinggir jalan agar langsung bisa jadi uang dengan mengincar penumpang bus atau orang-orang dari luar daerah yang mampir.

Keadaan makin buruk ketika untuk menghemat ongkos pelukis bersiasat dengan bahan-bahan bermutu rendah. Tak jarang cat diganti dengan racikan sendiri dengan memanfaatkan bubuk dan lem yang tentu saja membuat lukisan luntur jika terkena air. Orang menyebutnya sebagai cat ancur.

Tak cuma cat, kanvas juga disiasati dengan memakai bekas kantong gandum sebagai belacu. Ironis, tak jarang di bagian belakang lukisan ditemui ‘stempel’ segitiga biru yang merupakan merek tepung terigu.

Sebagian kecil saja yang dipajang karena lebih banyak lagi yang diambil sendiri oleh pengepul-pengepul dari luar daerah menggunakan,” kata Joko Santoso warga Sokaraja yang sempat menikmati kejayaan lukisan Sokaraja.

Joko bercerita saat menginjak usia remaja dia mengaku sempat coba-coba menjadi pelukis. Menganggap dirinya tak berbakat belakangan dia banting stir menjadi penjual lukisan, profesi yang ditekuninya hingga berumah tangga. “Hampir kota-kota di seantero Pulau Jawa telah saya datangi untuk jualan lukisan. Untungnya lumayan karena harga di sana bisa beberapa kali lipat dibanding di Sokaraja.”

Saat lukisan-lukisan pigura tak laku lagi dijual, Joko ganti menjual lukisan untuk latar belakang foto studio. Pemandangan tetap menjadi tema, namun ukurannya membengkak menjadi tiga kali ukuran lukisan biasa.

Ya, mutu rendah dan tema monoton akhirnya menjadi kombinasi maut yang ‘membunuh’ lukisan Sokaraja. Pamornya tambah redup di era 1980-an seiring datangnya gelombang seni lukis modern yang mengusung aliaran-aliran kubisme, abstrak, dekoratif hingga surealis. Bisa dibilang pelukis-pelukis Sokaraja gagap menyikapi bergesernya selera jaman.

Syarif, pemilik galeri lukis "Keluarga" yang sedang melayani pemesan lukisan yang membawa contoh foto.
Syarif, pemilik galeri lukis “Keluarga” yang sedang melayani pemesan lukisan yang membawa contoh foto.

Bertahan

Hingga pertengahan tahun 80-an kejayaan lukisan Sokaraja masih terasa denyutnya. Namun, memasuki dekade 90-an jumlah seniman maupun galeri lukisan menyusut drastis gara-gara pembeli yang anjlok.

Mereka yang ngotot dengan gaya melukisnya memilih hijrah ke luar daerah menjadi pelukis jalanan atau menyewa tempat seperti di Ancol, Jakarta. Di tempat itu lukisan mereka dihargai lebih tinggi dibanding di kampung halaman.

Sedangkan mereka yang tetap bertahan di Sokaraja beralih dari lukisan kanvas menjadi pembuat latar belakang untuk studio-studio foto. Cuma segelintir yang bertahan tetap menjual lukisan.

Dari segelintir yang tersisa itu adalah Keluarga milik Syarif. Galeri itu bertahan menjadi ruang pamer bagi beberapa pelukis Sokaraja yang masih membuat karya-karyanya sampai sekarang.

Sebelum memutuskan untuk membuka galeri sendiri di tahun 1968, Syarif adalah pedagang lukisan di Jakarta dan memutuskan menetap di kampung halaman. Memanfaatkan rumah yang berlokasi di pinggir jalan, dia membuka galeri lukis kecil-kecilan memanfaatkan keramaian kunjungan pembeli lukisan dari luar daerah.

Didorong teman-temannya yang mendesak agar tetap ada galeri yang bertahan, Syarif nekat menampung lukisan-lukisan yang dibuat oleh saudara dan tetangga yang masih mau membuat lukisan. “Di sini lukisan yang paling murah dijual dengan harga 30 ribuan, dan yang paling mahal antara Rp 1,5 juta hingga 2 jutaan,” kata Syarif.

Disamping menjual lukisan jadi, Syarif juga menerima pesanan lukisan dari pembeli yang kadang meminta lukisan yang lain. Dia juga menerima order dari sampel foto yang dibawa oleh pembeli. Bakat melukis, kata Syarif didapatnya secara otodidak dan belajar dari orangtua mereka secara turun temurun.

Sayangnya karena hanya mengandalkan orang-orang yang berkunjung atau mampir ke galeri hasil penjualan tak menentu setiap harinya. Padahal dengan cat dan bahan yang lebih baik, kualitas lukisan yang dijual Syarif lebih baik dibanding lukisan Sokaraja di masa booming-nya.

Banyak orang dari luar daerah masih menganggap lukisan Sokaraja adalah lukisan yang murahan, padahal tidak!” kata Syarif.

Miris, lukisan Sokaraja yang telah berubah itu ternyata masih terbelenggu ‘dosa’ masa lalu.(*)

Yudi Setiyadi

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

nineteen − fourteen =