Banyak Petani Nira di Cilacap Belum Mengenal Gula Semut

Banyak Petani Nira di Cilacap Belum Mengenal Gula Semut

Proses pembuatan gula dari nira kelapa oleh petani nira di Desa Kedungbenda, Nusawungu, Cilacap.

Proses pembuatan gula dari nira kelapa oleh petani nira di Desa Kedungbenda, Nusawungu, Cilacap.
Proses pembuatan gula dari nira kelapa oleh petani nira di Desa Kedungbenda, Nusawungu, Cilacap.

Pena Desa – Gula Semut yang merupakan salah satu produk unggulan Kabupaten Cilacap ternyata masih menjadi hal yang asing bagi para petani nira di Desa Kedungbenda, Nusawungu, Cilacap. Banyak petani nira yang belum tahu tentang proses pembuatan gula semut dan seluk beluk produk ini.

Kasiah (45), petani nira di Desa Kedungbenda yang sudah lebih dari lima tahun menggeluti profesi sebagai petani nira, mengaku belum tahu tentang produk gula semut. “Gula semut itu apa dan bagaimana cara membuatnya, saya belum tahu,” ungkap Kasiah, ketika ditemui di rumahnya, Jumat (25/09).

Para petani nira di Desa Kedungbenda selama ini mengolah nira kelapa hanya sebatas untuk pembuatan gula merah atau gula jawa. Proses pembuatannya pun masih secara tradisional. Padahal jika diolah menjadi gula semut, nira kelapa akan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Jika memang harganya lebih mahal, kami tidak keberatan untuk membuatnya meskipun kata orang prosesnya lebih ribet,” tambah Kasiah.

Hal yang berbeda diungkapkan oleh Mukti (43), sesama petani nira di Desa Kedungbenda, Mukti mengaku sudah sedikit tahu tentang gula semut meskipun belum pernah membuatnya sendiri. Namun Mukti belum memiliki keinginan untuk membuatnya.

Alasan Mukti belum ingin membuat gula semut karena cerita dari pengalaman tetangganya yang sudah pernah membuatnya. “Katanya membuat gula semut itu ribet, selisih harganya tidak beda jauh dari gula biasa, tidak sebanding dengan proses pembuatannya,” tutur Mukti.

Alasan lain yang menjadikan Mukti dan petani lain di desanya tidak tertarik membuat gula semut juga karena pengambilan dari pembeli yang tidak pasti waktunya. “Terkadang sampai satu bulan gula semut yang sudah jadi belum diambil, padahal membuat gula kan jadi mata pencaharian utama kami,” tambah Mukti.

Meskipun demikian, jika produk gula semut lebih baik, selisih harganya lumayan, Mukti dan para petani nira lain di desanya tidak keberatan untuk membuatnya.

Katakanlah lima atau tujuh ribu dibandingkan dengan gula biasa dan pengambilannya lancar tentu kami tidak keberatan untuk membuatnya,” harap Mukti.

Mukti yang telah menjadi petani nira lebih dari dua puluh tahun ini berharap banyak akan peningkatan kesejahteraan petani nira. Jika gula semut bisa menjadi peluang meningkatkan kesejahteraan petani nira, dia dan teman-teman lain sesama petani nira tidak keberatan untuk mencobanya.

Muhjatul Qolbi

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

4 × five =