Idul Adha Perajin Beduk Borong Kulit Sapi

Idul Adha Perajin Beduk Borong Kulit Sapi

Perajin beduk di Desa Keniten, Kedungbanteng, Banyumas sedang menjemur kulit sapi, jumat (25/09).
Perajin beduk di Desa Keniten, Kedungbanteng, Banyumas sedang menjemur kulit sapi sebagai bahan pembuatan beduk, jumat (25/09).

Pena Desa – Perayaan idul adha dimanfaatkan oleh perajin beduk di Desa Keniten, Kedungbanteng, Banyumas untuk memborong kulit sapi. Banyaknya sapi yang dikurbankan menjadi kesempatan langka bagi para perajin, karena pada hari biasanya para perajin mengalami kesulitan saat mencari bahan kulit pembuatan beduk.

Hampir semua jenis sapi dapat dimanfaatkan kulitnya sebagai bahan pembuatan beduk, namun kulit sapi jawa yang paling bagus kualitasnya. Para perajin membeli kulit sapi dengan harga 12 ribu perkilogramnya, untuk satu ekor sapi bisa menghasilkan kulit dengan berat 20 sampai 40 kilogram.

Taufik Amin, salah satu perajin beduk mengungkapkan harga beli kulit sapi pada tahun ini mengalami penurunan, hal ini disebabkan harga kulit di pasaran juga mengalami penurunan. “Kami membeli kulit sapi menyesuaikan dengan harga pasaran, saat ini harganya 12 ribu perkilogram,” ungkap Taufik saat ditemui di tempat pembuatan beduk miliknya, Jumat (25/09).

Kulit sapi yang dibeli oleh para perajin sebagian besar berasal dari daerah Banyumas dan sekitarnya, hanya kulit sapi utuh yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan beduk. “Sebagian kulit sapi kami beli dari desa-desa sekitar sini, ada juga yang kami beli dari daerah lain asalkan kulitnya tidak rusak,” tambah Taufik.

Kulit sapi yang telah didapatkan akan langsung dijemur oleh para perajin, hal ini untuk menjaga kualitas kulit yang akan digunakan sebagai bahan pembuatan beduk.

Menurut Kusen, sesama perajin beduk di Desa Keniten, terik matahari sangat berpengaruh pada proses pengeringan kulit. “Penjemuran bergantung pada panas matahari, kalau panasnya seperti musim kemarau kali ini dua hari biasanya sudah kering,” tuturnya.

Tidak ada teknik khusus dalam proses penjemuran, kulit sapi yang masih basah ditarik dengan tali yang dikaitkan pada kayu. Kekencangan tali saat proses penarikan kulit inilah yang akan berpengaruh pada kualitas kulit yang dihasilkan.

“Tidak ada teknik khusus, yang penting narik kulitnya kencang dan panas mataharinya sedang bagus,” ungkap Kusen.

Yudi Setiyadi

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

nine − 4 =