Welit dan Kajang, Kerajinan Tradisional yang Terkikis Jaman

Welit dan Kajang, Kerajinan Tradisional yang Terkikis Jaman

pohon nipah yang banyak tumbuh di wilayah Kabupaten Cilacap

pohon nipah yang banyak tumbuh di wilayah Kabupaten Cilacap
pohon nipah yang banyak tumbuh di wilayah Kabupaten Cilacap

Pena Desa – Rumah-rumah tradisional tak lagi mudah dijumpai di sekitar desa, kini tembok dan genteng telah menjadi pilihan mayoritas masyarakat. Welit dan kajang pun, tersingkirkan oleh perkembangan jaman yang sudah serba modern.

Daon”, begitulah masyarakat di wilayah Cilacap bagian timur menyebut daun nipah. Daun nipah pada eranya menjadi sahabat masyarakat untuk berlindung dari terik dan hujan. Daun nipah dianyam oleh masyarakat menjadi welit dan kajang. Welit digunakan masyarakat sebagai atap rumah, sedangkan kajang digunakan sebagai pagar atau dinding rumah.

Daun nipah bahkan menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat pada masanya. Banyak ibu rumah tangga yang menekuni profesi sebagai perajin welit dan kajang. Tini (60), ibu rumah tangga di Desa Kedungbenda, Nusawungu, telah menjadi perajin welit dan kajang sejak puluhan tahun lalu. Masih membekas dalam ingatannya ketika welit dan kajang turut menghidupi keluarganya. “Kalo hanya untuk membuat welit, seharian bisa dapat 100 lembar,” tutur Tini menceritakan kenangannya.

Pohon nipah banyak tumbuh di sekitar rawa, buahnya memiliki rasa yang mirip dengan kelapa, bergerombol menyerupai buah sawit. Niranya biasa dimanfaatkan masyarakat untuk membuat gula, masyarakat menyebutnya gula daon. Gula daon memiliki rasa sedikit asin dan warnanya lebih merah dari gula yang terbuat dari nira kelapa.

Ketika masyarakat belum mengenal genteng, asbes dan seng, daun nipah menjadi pilihan dalam pembuatan rumah. Hampir semua bagian dari pohon nipah dimanfaatkan oleh masyarakat, batangnya biasa digunakan sebagai kayu bakar.

Jaman telah berubah dan menawarkan banyak pilihan untuk masyarakat, welit dan kajang tidak lagi dilirik untuk membuat rumah. Mereka yang berprofesi sebagai perajin welit dan kajang kini beralih pada pekerjaan yang lebih menjanjikan. Salah satu dari beberapa orang yang bertahan membuat welit dan kajang adalah Tini, dia tetap membuatnya meski permintaan sudah jarang.

Bak angin segar di musim kemarau, welit kini memiliki peminat baru. Munculnya para peternak unggas membuat permintaan terhadap welit masih terus ada. Welit dimanfaatkan sebagai atap untuk kandang karena harganya yang relatif terjangkau.

Permintaan dari peternak unggas kembali menggairahkan para perajin welit, menyelamatkannya dari keputusasaan di tengah gerusan kemajuan jaman. “Saat ini hanya mengandalkan permintaan welit dari peternak unggas, sedang untuk kajang sudah tidak ada lagi permintaan,” ungkap Sakem, anak dari salah satu penjual welit.

Meski hasilnya tidak sebanyak dulu, membuat welit tetap menjadi nadi ekonomi bagi mereka yang masih bertahan. “Saat ini welit dijual dengan harga Rp 800,- setiap lembarnya,” tambah Sakem.

Masyarakat Desa Kedungbenda biasanya menjual welit ke daerah sekitar seperti Petanahan, Puring, Ambal, Mirit, dan Kroya. Mereka yang tetap bertahan, tidak pernah tahu akan sampai kapan welit tetap dibutuhkan. Berusaha untuk tetap membuatnya dan menjualnya meski perubahan jaman telah menawarkan banyak pilihan.

Muhjatul Qolbi

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

17 − 3 =