Kenapa Air Sungai di Desa Merden Berwarna Putih?

Kenapa Air Sungai di Desa Merden Berwarna Putih?

Air sungai yang berwarna putih namun terpaksa tetap dimanfaatkan oleh warga Desa Merden, Purwanegara, Banjarnegara.
Air sungai yang berwarna putih namun terpaksa tetap dimanfaatkan oleh warga Desa Merden, Purwanegara, Banjarnegara.

Sebulan terakhir ini warga Desa Merden, Purwanegara, Banjarnegara mengeluhkan air sungai di desanya yang berubah warna menjadi putih. Warga menduga air sungai berwarna putih karena tercemar limbah dari tempat pencucian pasir putih di hulu sungai parakan Desa Merden.

Sungai sapi dan sungai parakan, airnya biasa dimanfaatkan warga untuk kebutuhan sehari-hari, seperti mandi, mencuci, bahkan juga dimanfaatkan untuk air minum. Dengan kondisi air yang berwarna putih, warga kesulitan untuk mendapatkan air bersih, apalagi di musim kemarau seperti sekarang ini.

Warga mengaku tidak mengetahui bangunan yang ada di desanya digunakan untuk pencucian pasir putih dan limbahnya langsung dibuang ke sungai. ”Saya tidak tahu pastinya kalo bangunan itu adalah pencucian pasir putih. Saya cuma dengar-dengar saja. Tidak ada pemberitahuan kalau limbahnya dibuang langsung ke sungai. Awalnya saya pun kaget sungainya jadi putih. Tapi ya bagaimana lagi, saya tetap menggunakan air itu,” jelas Rusnareja (60), warga Desa Merden yang selama ini menggantungkan kebutuhan air dari sungai parakan.

Bukan hanya air sungai yang tercemari, beberapa sumur warga 20 m dari sungai pun ikut kena dampaknya. Warga yang minum dari air sungai dan sumur pun merasa airnya tidak bersih. Setelah menggunakan air yang berwarna putih, mereka merasa sakit tenggorokan dan ada juga yang gatal-gatal. “Sumur rumah saya juga airnya sekarang keruh. Susah kalo semuai air ikut kotor dan putih,” ungkap Anita (30), warga lain yang juga mengeluhkan kondisi air di desanya.

Bangunan di Desa Merden yang difungsikan sebagai tempat pencucian pasir putih.
Bangunan di Desa Merden yang difungsikan sebagai tempat pencucian pasir putih.

Warga khawatir dengan kondisi air sungai yang sekarang berwarna putih akan berdampak pada kesehatan masyarakat dan ekosistem sungai. Masyarakat banyak yang dirugikan karena kehilangan sumber air bersih. “Seandainya saya tahu itu memang digunakan untuk pencucian pasir putih, pasti akan banyak yang menolak,” tegas Rusnareja.

Warga sangat menyesalkan dengan keberadaan bangunan di desanya yang digunakan sebagai tempat pencucian pasir putih, mereka mengaku selama ini tidak ada sosialisasi yang baik dengan masyarakat desa. “Sebenarnya banyak yang tidak setuju, kami pun ingin demo. Tapi sama siapa?,” ungkap Sumiati (40), mempertegas pernyataan Rusnareja.

Ikfi Muallifa Izzati

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

3 + seven =