Ungkap Rasa Syukur, Warga Tanalum Gelar Ruwat Bumi

Ungkap Rasa Syukur, Warga Tanalum Gelar Ruwat Bumi

Warga Desa Tanalum yang mengikuti prosesi ruwat bumi dengan membawa hasil bumi sebagai ungkapan rasa syukur

Warga Desa Tanalum yang mengikuti prosesi ruwat bumi dengan membawa hasil bumi sebagai ungkapan rasa syukur
Warga Desa Tanalum yang mengikuti prosesi ruwat bumi dengan membawa hasil bumi sebagai ungkapan rasa syukur

Pena Desa – Rabu (14/10) pagi, ratusan anak-anak hingga warga lanjut usia berkumpul di lapangan SMP 6 Satu Atap Rembang, berdekatan dengan Balai Desa Tanalum, Kecamatan Rembang, Purbalingga. Para warga desa tersebut bukan berdemo, melainkan hendak menggelar tradisi ruwat bumi untuk memperingati datangnya tahun baru 1437 Hijriyah. 

Sejatinya, tradisi tersebut sudah lama hilang lantaran tidak pernah dilakukan lagi. Tahun ini, masyarakat bersepakat untuk menghidupkan adat yang digelar setahun sekali itu.

Menjaga dan melestarikan tradisi para leluhur kan sudah menjadi tanggung jawab kita semua sebagai orang Jawa, jangan sampai adat kebudayaan kita hilang,” ungkap Taat Prianto (28), warga setempat. 

Meski terik matahari terasa menyengat tak menghalangi sedikitpun minat warga untuk menyaksikan acara ruwatan ini secara langsung, tak hanya di sekitar lapangan, jalan di depan SMP pun dipadati warga.

Tradisi ruwatan dimulai dengan mengumpulkan sesaji berupa aneka minuman, beras, benang merah yang di beri pleting, serta hasil bumi yang ada di desa seperti kelapa, ketela pohon, ubi, aneka sayuran, dan tanaman lainnya. Setelah doa bersama dan seluruh prosesi selesai, hasil bumi dan air yang digunakan untuk prosesi diserbu oleh para warga. 

Tokoh adat setempat, Ki Sumitro (45), mengungkapkan, sebagai bagian dari suku Jawa, sudah menjadi kewajiban kita untuk nguri-uri acara ruwat atau rawat bumi saat tahun baru Islam datang. 

“Harapannya kelak, tradisi ini tidak akan hilang,” ujar dalang wayang kulit yang memimpin acara ini.

Sementara itu, salah satu panitia ruwat bumi, Tusri khasanah (50), mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta atas hasil pertanian yang melimpah. Ruwatan tersebut sebagai penghantar doa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Warga berharap dengan adanya acara syukuran ini hasil panen tetap melimpah dan tidak ada hama yang menyerang ladang mereka. Paling utama tetap meminta ke Tuhan, acara ini hanya wujud rasa syukur saja,” kata dia.

Acara ruwatan dilanjutkan dengan acara gelaran wayang kulit semalam suntuk di tempat yang sama.

Ina Farida

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

7 + eleven =