Belajar Teknik Fotografi dengan Gadget dari Arbain Rambey

Belajar Teknik Fotografi dengan Gadget dari Arbain Rambey

dokumentasi AJI Indonesia
dokumentasi AJI Indonesia

Pena Desa – Arbain Rambey, fotografer Kompas membagi ilmunya dalam kelas ‘Fotografi Using Gadget’ pada Festifal Media 2015 di Kampus Atma Jaya Jakarta (15/11).

Arbain menekuni profesinya sebagai fotografer sejak tahun 1990. Sebelum menjadi fotografer, Arbain dulunya adalah seorang Insinyur. Sejak beralih profesi, Arbain mendapat bimbingan dari para senior yang banyak membawa kemajuan dalam karirnya. Menurutnya untuk menjadi fotografer syaratnya tidak susah, asalkan mempunyai kamera

Arbain menemukan persamaan hasil foto melalui kamera besar dengan gadget. Bahkan hasil keduanya tidak dapat dibedakan sama sekali. Asalkan foto yang diambil dengan menggunakan gadget cukup cahaya, motret statis (gambar tidak bergerak). Maksud dari motret statis adalah obyek yang difoto tidak bergerak.

Melihat secara standar, yaitu ketika kita melihat hasil foto tidak perlu dibesarkan berlebihan. Melihat secara standar sesuaikan dengan kebutuhannya. Serta memperhatikan jarak dalam pengambilan gambar. Jarak tidak terlalu jauh dari obyek dan tidak terlalu dekat dari obyek yang difoto.

Keteledoran seorang fotografer biasanya dia terlalu “jorok”. Jorok ketika tidak pernah membersihkan lensa pada kamera. Terutama pada kamera gadget. Jadi, sebelum menggunakan kamera dalam mengambil gambar, sebaiknya bersihkan terlebih dahulu.

Mengambil gambar menggunakan gadget perlu memperhatikan beberapa hal. Jangan menambahkan tekanan. Maksudnya adalah ketika menekan tombol shutter, tekan seperlunya saja. Tidak perlu menekan tombol dengan menggunakan otot atau tenaga dalam.
Pegang gadget dengan menggunakan kedua tangan. Hal ini meminimalisir geseran atau getaran pada tangan. Jika jenis kamera gadget sudah menggunakan auto focus, maka tunggulah. Jangan langsung digeser atau dialihkan.

Foto dengan gadget menjadi alternatif peliputan

Hubungannya dengan jurnalis, foto menggunakan gadget seharusnya menjadi alternatif peliputan. Mengapa harus gadget? karena tidak semua momen dimana seorang jurnalis mendapatkan ijin untuk mengambil gambar atau memasuki suatu wilayah dengan membawa kamera besar.

Jadi, gadget adalah solusi untuk bisa mendapatkan gambar. Pura-pura selfie atau menelpon adalah beberapa caranya. Hal seperti ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi semakin berkembang namun tidak diimbangi dengan kemajuan jurnalisme.

Kegiatan fotografi, menangkap sesaat, menyimpan, dan menampilkannya kembali pada lain waktu. Siapapun bisa menjadi fotografi. Untuk memiliki kamera orang mudah mendapatkannya. Tetapi kemampuan memotret, kemampuan memahami bahasa visual, perlu diasah dan dikembangkan secara terus menerus.

Pengembangan kemampuan memotret dapat dilakuan dimana saja dan mempelajari hasil potretnya. Ketika mengambil foto pemandangan, perlu perhatikan when. Kapan waktu akan mengambil gambar. Foto pemandangan tidak akan bagus jika diambil diatas jam 8. Foto dikatakan bagus adalah jika foto tersebut sesuai dengan target pembuatannya. Foto buram sekalipun bisa dikatakan bagus, jikalau foto itu hanya ada satu dan satu-satunya. Sah-sah saja jika jurnalisme menggunakan itu.

Kekuatan foto dan tulisan sama kuatnya. Tidak semua foto bisa dituliskan dan tidak semua tulisan difotokan. Siapapun tidak akan pernah bisa memfotokan rupiah melemah. Juga tidak bisa menuliskan asap kebakaran. Itu hanya sebagian kecil contoh keterkaitan gambar dan tulisan.

Pengambilan foto dalam jurnalisme perlu memperhatikan teknik pengambilan foto. Posisi, yaitu tempat dimana seorang fotografer dan kameranya berdiri. Dari sisi mana dia akan mengambil gambar, dan seperti apa gambar yang mampu menjelaskan tulisan. Komposisi, adalah unsur-unsur yang cukup untuk menceritakan kejadian. Momen, adalah waktu atau kesempatan yang tidak bisa dimiliki bahkan didapat oleh orang lain.

Foto seni dibagi menjadi foto guna dan golongan foto. Foto guna adalah foto yang dapat mencatat dan mendokumentasi kejadian. Foto guna sebagai jurnalistik yaitu foto yang dapat digunakan sebagai pelaporan kejadian atau peristiwa. Golongan foto mencangkup tentang apa, dimana, dan bagaimana foto itu sendiri.

Menjadi fotografer yang menggunakan gadget, bijaklah dalam mengambil foto. Sesuaikan dengan kemampuan alat. Kurangi atau tidak perlu menggunakan zoom pada gadget. Hal tersebut menjadikan foto tidak sesuai dengan komposisi.

Ikfi Muallifa Izzati

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

eleven − 4 =