Okky Madasari : “Menulis Ibarat Membangun Rumah”

Okky Madasari : “Menulis Ibarat Membangun Rumah”

Festival Media AJI 2015
Festival Media AJI 2015

Pena Desa – Kelas Menulis kreatif menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Festival Media 2015 di Kampus Atma Jaya Jakarta (14/11). Hadir sebagai narasumber adalah Okky Madasari. Penulis fiksi ini mulanya adalah wartawan dari salah satu surat kabar, dia tidak jarang nongkrong di depan gedung KPK untuk berburu berita. Selama nongkrong menunggu liputan berita, dia banyak menghabiskan waktu untuk membaca.

Okky Madasari berbagi cerita pengalaman hidupnya. Pengalaman sebagai jurnalis lah yang mengantarkannya menjadi penulis fiksi. Wawasanya tentang jurnalisme, membuatnya semakin butuh ruang yang lebih luas untuk menulis. Ruang untuk menuliskan ide-idenya, gagasan-gagasannya, bahkan ruang untuk menuangkan imajinasinya. Sebab, menulis merupakan sarana untuk berjuang, sarana untuk memberi suara, dan merupakan sarana untuk mengutarakan sesuatu yang penting dalam masyarakat.

“Menulis dengan Kesadaran” merupakan tema Kelas Menulis Kreatif yang dibawakan oleh Okky Madasari. Menulis dengan kesadaran adalah proses menulis yang dikendalikan sepenuhnya oleh kesadaran, pengetahuan dan cara pandang penulis terhadap dunia dan permasalahannya. Sebuah tulisan seharusnya hadir untuk menggugah dan menjadikan pembaca menyadari apa yang ada dalam realita, meski tulisan itu dalam bentuk fiksi.

Menulis adalah kegiatan yang personal dan politis

Menulis menurut Okky Madasari adalah kegiatan yang personal dan politis. Menulis adalah kegiatan yang personal. Menulis merupakan kegiatan menuangkan ide, pikiran, gagsan, pengalaman, mimpi-mimpi bahkan curahan hati yang tidak bisa diwakilkan kepada orang lain.

Menulis bisa mejadi hal yang politis adalah karena dengan menulis kita menyampaikan gagasan itu pada orang lain. Dengan menulis berupaya untuk membuat orang lain paham dengan hal-hal yang kita pikirkan. Menulis juga mengajak orang lain untuk turut mengubah pendapat tentang sesuatu yang kita anggap tidak benar, mengubah kondisi masyarakat yang perlu mengalami perubahan.

Kekuatan menulis, dipengaruhi juga dari kekuatan membaca. Buku yang dibaca akan membentuk karakter tulisan yang akan ditulis. Seperti halnya membaca buku tentang cinta-cintaan, maka tidak menutup kemungkinan tulisan yang diproduksi pun akan seperti itu. sebelum menulis, juga harus tahu apa yang akan ditulis. Sebelum tulisan diproduksi, sebaiknya melakukan pengamatan. Pengamatan dilakukan dengan melihat, mendengar dan merasakan hal-hal yang terjadi dalam masyarakat.

Kemampuan menulis, dapat dilihat dari prasyarat untuk menghasilkan sebuah tulisan. Yaitu dari adanya pengetahuan. Pengetahuan yang kemudian menjadi dasar membentuk kesadaran dasar dalam menghadapi suatu permasalahan. Pengetahuan juga berfungsi sebagai dasar bagaimana cara memandang suatu permasalahan. Membaca adalah cara yang paling mudah untuk mendapat pengetahuan sebelum membuat tulisan.

Menulis ibarat membangun rumah

Menulis menurut Okky Madasari diibaratkan seperti halnya membangun rumah. Adanya pondasi, tembok, tiang, atap, dan adanya jendela dan pintu yang dilakukan secara sistematis.

Pondasi adalah dasar sebuah bangunan yang tidak terlihat. Menulis perlu adanya pondasi. Tanpa pondasi yang kuat, biasanya menjadikan tulisan itu berhenti di tengah jalan. Bahkan berhenti menulis karena tidak tahu apa yang akan dituliskan.

Pondasi inilah yang disebut sebagai ide, gagasan, pikiran tentang apa yang akan ditulis. Pondasi erat hubungannya dengan pengetahuan. Hubungan tersebut yang akan menekankan sudut pandang dalam penulisan. Dari sudut pandang itulah yang akan memunculkan sikap. Sikap ini yang kemudian mempengaruhi orang lain dengan adanya tulisan yang diproduksi.

Tembok adalah bidang yang membatasi bangunan kita. Tembok yang menentukan ruang-ruang tertentu. Tembok juga yang menentukan luas suatu ruangan. Kaitannya dengan tulisan, tembok merupakan alur tulisan yang nantinya akan mengolah pondasi. Di sini akan dituntut untuk menentukan sudut pandang penulisan. Dari sudut pandang apa, siapa, dan dimana tulisan itu akan diproduksi.

Tiang dalam tulisan adalah karakter manusia atau rasa yang akan dibuat. sehingga penulis bisa mempengaruhi pembaca melalui tulisan. bagian ini menjadikan penulis membangun dan menghidupkan karakter dan elemen manusia yang akan dibentuk dalam tulisannya.

Atap adalah cara bertutur, cara berbicara, dan cara menuliskan. Cara menuliskan bisa dipilih dari sudut pandang orang pertama, atau menuliskan dari sudut pandang orang kegita. Tergantung rasa nyaman penulis dalam menghadirkan cerita. Dimana dalam penulisan fiksi tidak jauh dari masa lalu yang tidak lepas dari ingatan dan masa depan tentang harapan. Dalam hal ini akan muncul konflik yang kemudian akan diikuti bagaimana alur yang akan dibuat.

Pintu dan jendela dalam bangunan berfungsi untuk melihat dan menghubungkan kita dengan dunia luar. Pintu dan jendela dalam menulis merupakan bahasa dan kata-kata. Pada dasarnya dalam menulis adalah berbicara pada orang lain melalui tulisan. Menjadikan tujuan utama menulis adalah membuat orang mengerti apa yang kita sampaikan, apa yang kita rasakan,dan apa yang kita katakan.

Bahasa yang kurang sederhana menjadikan pembaca kurang bisa memahami apa yang kita sampaikan. Bahkan kemewahan dalam tulisan bisa juga membuat pembaca bingung. Jadi, sebesar apapun tema yang akan diangkat, penulisannya harus menggunakan bahasa yang sesederhana mungkin, se simpel mungkin, agar semua orang bisa memahami itu dengan baik tanpa mengorbankan esensi.

Ikfi Muallifa Izzati

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

4 × 3 =