Batu Akik, Apa Kabarmu Kini?

Batu Akik, Apa Kabarmu Kini?

Bongkahan batu akik yang belum laku terjual karena berkurangnya peminat batu akik saat ini. (Ina Farida/Pena Desa)
Bongkahan batu akik yang belum laku terjual karena berkurangnya peminat batu akik saat ini. (Ina Farida/Pena Desa)

Pena Desa – Fenomena booming batu akik kini telah meredup. Tak ada lagi kerumunan para pemburu batu akik, baik di kios, tempat perajin, maupun di tempat pembelahan batu akik. Di curug (air terjun) pun sama, kini tak ada lagi warga yang mencari batu akik.

“Masyarakat sudah kembali seperti semula, ke curug hanya untuk bermain air, mandi atau hanya sekedar jalan-jalan. Sudah jarang yang mencari batu, bahkan banyak warga membuang batu yang tak laku ke sungai,” ungkap Taat Prianto, ketua pokdarwis Argo Lestari Desa wisata Tanalum.

Hal yang sama juga terlihat di tempat pembelahan batu akik. Sewaktu masih booming, tempat tersebut tak pernah sepi dari warga yang akan membelah batu yang mereka miliki. Sampai dini hari pun biasanya masih terdengar deru mesin pembelah batu.

“Pokoknya pas Booming-boomingnya para pekerja bisa pergi pagi pulang pagi. Paling hanya tidur 3 jam,” kata Emi Permanasari, pemilik tempat pembelahan batu di Desa Sumampir, Rembang Purbalingga ini.

“Saking banyaknya orang yang ingin membelah batu, para pekerja kami bisa membelah hampir 5 kuintal batu akik dalam satu hari, kalau sekarang turun drastis. Paling-paling hanya 30-40 kg itu pun tidak tiap hari. Hasilnya lumayan, bisa untuk membantu ekonomi para pekerjanya,” imbuh ibu 3 anak ini.

Seiring berjalannya waktu, pencari batu akik pun semakin menurun. Saat ini hanya orang-orang yang benar-benar suka seni dan para pecinta batu saja yang mencarinya untuk koleksi dan untuk mengikuti kontes. Batu yang dicari pun tidak sembarangan, mereka hanya mau batu yang berkualitas dan terbaik.

“Dulu dalam satu minggu bisa mengirim 7 sampai 15 kali pengiriman ke berbagai daerah baik di pulau jawa maupun ke luar jawa. Kini paling hanya 1 atau 2 kali kirim saja,” ungkap Arif Mugi Pangestu, pemilik Cha-cha Stone.

“Saat masih ramai, saya tidak hanya menyediakan batu akik lokal seperti pancawarna dan nagasui saja, saya pun sempat membeli batu dari Palembang sampai 5 ton. Sampai batu dengan kualitas rendah pun laku,” imbuhnya.

Para pemilik usaha bahan maupun pengolahan batu akik ini berharap agar fenomena batu akik kembali bersinar.

Ina Farida

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

three × five =